13 Tewas Dalam Penembakan di Kampus Rosenburg, Oregon, AS

Foto: AP/VoAIndonesia

Portland, Sayangi.Com– Dunia pendidikan di Amerika Serikat (AS) kembali diguncang kasus penembakan. Insiden penembakan kali ini terjadi pada Kamis (1/10) pagi waktu setempat, di Umpqua Community College di Roseburg, sekitar 280 kilometer sebelah selatan ibu kota Negara Bagian Oregon, Portland.

Jumlah korban sejauh ini masih simpang siur. Menurut Jaksa Oregon, Ellen Rosenblum, korban tewas dalam insiden ini mencapai 13 orang dan sedikitnya 20 orang luka-luka.

Seluruh kawasan kampus kemudian dikarantina dan orang-orang diminta untuk menjauhi kampus tersebut. Para tenaga medis segera merawat para korban luka di tempat kejadian, dan sebagian dibawa ke sejumlah rumah sakit.

Menurut laporan TV CNN, polisi kota dan polisi negara bagian, serta detektif sedang menyelidiki kasus itu. Tetapi mereka belum menyebutkan motif di balik serangan itu.

Sejumlah media seperti CNN, CBS dan NBC, merilis nama Chris Harper Mercer (26 tahun) sebagai pria pelaku penembakan, tetapi pemerintah belum secara resmi mengumumkannya.

Polisi setempat sebelumnya hanya mengatakan bahwa tersangka penembak adalah seorang pria berusia 20 tahun, yang tewas setelah baku tembak dengan polisi.

Menurut laporan media lokal, para penyidik telah mewawancarai keluarga Mercer dan teman-temannya, serta mencari petunjuk dengan memantau postingan pemuda itu di media sosial. Sejumlah laporan juga mengatakan, pria itu bukan mahasiswa di Umpqua Community College.

Mengutip seorang sumber, CNN juga melaporkan, orang yang diduga sebagai pelaku itu sempat mengungkap niatnya untuk melakukan pembantaian dengan senjata api, pada malam sebelum peristiwa itu terjadi. Pelaku tersebut mengungkap niat jahatnya dalam sebuah perbincangan online.

Sebagai informasi, lebih dari 3.000 mahasiswa terdaftar di Umpqua Community College. Sekitar 58 persen di antaranya adalah perempuan.

Usia rata-rata mahasiswanya lebih dari 30 tahun, lebih tinggi dibandingkan kampus-kampus AS pada umumnya. Dan sebagian besar dari mereka merupakan mahasiswa paruh waktu yang mempersiapkan diri untuk pindah pekerjaan.