Pemakaman Pematung Edhi Sunarso Dilakukan Secara Militer

Foto: Antara

Bantul, Sayangi.com – Pemakaman jenazah pematung ternama Edhi Sunarso dilakukan secara militer di Makam Seniman “Giri Sapto” yang terletak di bukit Gajah, Desa Girirejo, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Upacara pemakaman yang dilaksanakan pada Selasa mulai pukul 15.30 WIB dengan diiringi tembakan senjata api oleh enam prajurit TNI tersebut sebagai bentuk penghormatan salah satu anggota pejuang Veteran RI Cabang Sleman, DIY itu.

Pemakaman disaksikan rombongan keluarga dan kerabat Edhi yang tiba bersama jenazah di lokasi pemakaman sekitar pukul 15.30 WIB, serta sejumlah kolega dan ratusan pelayat dari masyarakat sekitar.

Sebelum menuju pemakaman seniman, jenazah terlebih dulu dibawa ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang terletak di Jalan Parangtritis Bantul untuk disambut Rektor kampus, sebab almarhum adalah dosen pascasarjana perguruan tinggi seni itu.

Edhi Sunarso meninggal pada Senin (4/1) pukul 22.53 WIB di Rumah Sakit Jogja Internasional Hospital (JIH) Yogyakarta, sebelum menghembuskan nafas terakhir meninggalkan empat orang anak, almarhum dikabarkan sakit.

Salah satu kolega almarhum yang juga pematung yang hadir dalam pemakaman tersebut, Mahyar mengatakan, Edhi Sunarso merupakan lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI/ ASRI) dan kemudian melanjutkan kuliah di salah satu universitas di India.

Menurut dia, Edhi memulai karirnya dengan mengabdikan diri sebagai pematung yang membuat monumen-monumen bersejarah yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia dan sampai saat ini masih mendapat apresiasai dari berbagai pihak.

“Seperti patung monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan patung Dirgantara di Pancoran. Ketiga patung itu merupakan contoh hasil karya beliau,” katanya.

Menurutnya, sebelum menjadi pematung dengan banyak karya yang fenomenal, Edhi merupakan seorang tentara sejak usia muda, bahkan sempat dikenal sebagai salah satu pelempar granat saat serdadu NICA bertandang di Indonesia.

Dosen Pasca Sarjana ISI Yogyakarta tahun 1985-1990 ini juga pernah mendekam di penjara dan menjadi tawanan perang tentara kerajaan Belanda atau biasa dikenal KNIL, dan di sanalah Edhi mulai belajar menggambar dan memahat.