Ini 7 Alasan Mengapa Iran dan Arab Saudi Bermusuhan

Jakarta,Sayangi.Com– Arab Saudi memutus hubungan dengan Iran di tengah pertikaian kedua negara sejak sepekan terakhir, menyusul hukuman mati yang dijatuhkan otoritas Arab Saudi terhadap 40 orang lebih dengan tuduhan terkait terorisme. Di antara mereka yang dihukum mati, terdapat salah seorang ulama Syiah terkemuka di Arab Saudi, Sheikh Nimr al-Nimr.

Pemimpin Iran menyatakan bahwa Arab Saudi akan menghadapi ” pembalasan Ilahi” terkait eksekusi, dan Kedutaan Besar Saudi di Teheran diserang warga Iran yang marah pada Minggu (3/1) malam.

Saat musim haji tahun 2015 lalu, Pemerintah Iran juga marah terhadap Arab Saudi, menyusul terjadinya insiden injak-menginjak diantara sesama jamaah haji di Mina, yang mengakibatkan seribu lebih jamaah haji tewas dan yang terbanyak adalah jamaah asal Iran.

Kedua negara ini juga berada pada posisi yang berseberangan dalam sejumlah konflik kawasan. Pertanyaannya, mengapa mereka sering berselisih?

Setidaknya, inilah tujuh alasan mengapa Arab Saudi dan Iran bermusuhan, seperti dikutip dari BBB.Com dan sumber-sumber lainnya:

1. Perbedaan Paham Agama

Kemungkinan faktor paling signifikan di balik persaingan ini adalah bahwa masing-masing negara memandang dirinya sebagai pemangku agama Islam dengan paham yang berbeda.

Umat Islam dunia terpisah dalam dua kelompok utama, Sunni dan Syiah. Perpecahan ini berasal dari perselisihan yang terjadi tidak lama setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, tentang siapa yang seharusnya memimpin umat Muslim.

Dalam keyakinan kelompok Syiah, yang mendapat mandat untuk menjadi pemimpin umat Islam setelah Nabi wafat adalah Ali bin Abu Thalib. Sedangkan menurut paham Sunni, tak ada ketentuan dalam Al Quran maupun hadits yang menyatakan bahwa Ali adalah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad.

Konflik Sunni dan Syiah bertambah sengit saat Muawiyah bin Abu Sofyan mengambil alih posisi amirul mukminin dari tangan Ali, yang didahului oleh pertempuran antara pengikut keduanya, dan diakhiri dengan permufakatan disertai sebuah siasat dari Muawiyah yang merugikan Ali. Peristiwa Karbala di Abad ketujuh dimana cucu Nabi Muhammad, Hussein, terbunuh secara keji, semakin mempertajam pertentangan Sunni dan Syiah.

Arab Saudi adalah negara dimana terdapat dua kota paling disucikan dalam Islam, yakni Mekkah dan Madinah, sehingga menyatakan diri sebagai ‘pemimpin Sunni dunia’.

Sedangkan Iran memiliki penduduk Syiah terbesar dunia dan sejak revolusi Iran pada tahun 1979 memposisikan sebagai ‘pemimpin dunia Syiah’.

2. Geopolitik

Kedua negara bersaing untuk mempengaruhi negara-negara tetangganya dan juga terdapat kecurigaan tentang pengaruh Iran terhadap kelompok minoritas Syiah di Arab Saudi, di samping masyarakat Syiah di Bahrain, Irak, Suriah dan Lebanon.

Program nuklir Iran dan kemungkinan bahwa negara itu pada suatu hari akan memiliki senjata nuklir juga membuat khawatir tetangganya, terutama Arab Saudi.

3. Ideologi politik

Arab Saudi dipimpin raja dari dinasti Saud dan bentuk pemerintahannya adalah Islam konservatif. Hubungan Arab Saudi dengan Iran memburuk setelah revolusi pimpinan Ayatollah Khomeini.

Iran memiliki bentuk Islam yang lebih revolusioner dan pemimpin revolusi tahun 1979 – Ayatollah Khomeini – memandang monarki tidak sesuai dengan Islam.

Agenda berhaluan Islam Syiah radikal diluncurkan pada revolusi 1979 dipandang sebagai suatu penentangan terhadap rezim konservatif Sunni, terutama di kawasan Teluk, dan terdapat kecurigaan mendalam di dunia Arab terkait usaha Iran untuk mengekspor revolusinya ke negara-negara tetangga.

Iran sangat mendukung usaha Palestina menentang Israel dan menuduh negara-negara seperti Arab Saudi tidak memperhatikan nasib warga Palestina dan mewakili kepentingan pihak Barat.

Secara historis, Arab Saudi memiliki hubungan dekat dengan Barat yang memasok miliaran dolar persenjataan.

Sejak tahun 1979, hubungan Iran dengan Barat sangat menegang dan Barat menerapkan sanksi ekonomi selama bertahun-tahun terhadap Iran terkait apa yang dipandang sebagai usaha Teheran untuk memiliki senjata nuklir.

4. Kaitan dengan Suriah

Iran bersama Rusia adalah pendukung setia Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dukungan militer dari kedua negara itu dan sekutunya di Lebanon, Hisbullah, dipandang penting untuk mempertahankan kekuasaannya.

Sedangkan Arab Saudi adalah pendukung penting dan penyandang dana kelompok pemberontak Sunni yang menentang pemerintah.

Riyadh juga menjadi tuan rumah konferensi yang bertujuan untuk menyatukan berbagai kelompok pemberontak menentang pemerintahan Presiden Assad.

5. Kaitan dengan Irak

Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mendukung Saddam Hussein saat perang Iran-Irak tahun 1980-1988 dan mengalami serangan Iran terhadap kapal-kapalnya.

Hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi dibekukan selama tiga tahun setelah perang.

Sejak jatuhnya Saddam, kelompok mayoritas Syiah di Irak memimpin pemerintah dan memelihara hubungan dekat dengan Teheran. Hal ini membuat pengaruh Iran mencapai perbatasan Arab Saudi dan menciptakan persekutuan Syiah Iran, Irak, Suriah dan Lebanon.

Baghdad menuduh Arab Saudi mendukung kelompok Sunni radikal dan kekerasan sektarian di Irak.

6. Kaitan dengan Yaman

Arab Saudi berbagi Semenanjung Arab dengan Yaman yang memilki kelompok minoritas Syiah signifikan, Houthi.

Houthi memberontak dan mengambil alih sejumlah wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang didukung Saudi mengasingkan diri pada permulaan tahun 2015.

Negara-negara Arab di Teluk menuduh Iran mendukung Houthi secara keuangan dan militer, meskipun Iran menyangkal hal ini.

Keterlibatan Iran di halaman belakang Saudi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di Riyadh dan koalisi pimpinan Saudi terus memerangi para pemberontak.

7. Minyak

Minyak penting bagi kedua negara – Arab Saudi adalah produsen dan eksportir terbesar dunia – dan mereka kemungkinan memiliki kepentingan yang berbeda tentang seberapa banyak minyak yang dihasilkan dan berapa harganya.

Arab Saudi relatif kaya dan memiliki penduduk yang lebih sedikit dibandingkan Iran. Negara ini diberitakan dapat mengatasi rendahnya harga minyak saat ini untuk jangka pendek.

Iran lebih memerlukan pemasukan dan lebih menginginkan harga per barel yang lebih tinggi.

Setelah beberapa tahun tidak dilibatkan dalam pasar minyak dunia karena pemberlakuan sanksi, hal ini akan sangat membantu ekonomi Iran yang bermasalah.

Tetapi para pengamat memperkirakan para penghasil minyak memompa 0,5 juta sampai dua juta barel minyak per hari melebihi permintaaan, jadi Iran memerlukan negara penghasil minyak lainnya untuk memotong produksi agar terjadi peningkatan harga. Arab Saudi tidak mau melakukan hal ini.