Diperiksa KPK Sebagai Tersangka, Choel Mallarangeng Siap Ditahan

Foto: Sayangi.Com/Emil

Jakarta, Sayangi.Com– Komisi Peberantasan Korupsi (PK) memeriksa Andi Zulkarnaen Mallarangeng sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Pusat Pelatihan, Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P2SON) di Hambalang tahun anggaran 2010-2012.

“Saya hadir karena dari awal saya sudah janji untuk selalu kooperatif,” kata Andi Zulkarnaen, yang biasa dipanggil Choel, saat tiba di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (15/1).

Choel, yang merupakan adik mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, mengaku siap ditahan.

“Keadilan jangan ditunda, saya siap untuk ditahan mulai hari ini. Semoga prosesnya cepat,” kata Choel, yang terlihat menenteng satu tas kecil saat datang ke gedung KPK

Ia menambahkan: “Isi tasnya baju, CD, dan segala macam. Saya siap lahir batin.” 

KPK menetapkan Choel sebagai tersangka pada 16 Desember 2015 karena diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi terkait pembangunan atau pengadaan atau peningkatan sarana prasarana pusat pendidikan dan sekolah olahraga di Hambalang tahun anggaran 2010-2012.

Dalam dakwaan Andi Mallarangeng, Choel disebut sebagai perantara pemberian uang 550 ribu dolar AS kepada Andi dari mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah tangga Kementerian Pemuda dan Olahraga sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora Deddy Kusdinar.

Dalam pemeriksaan pada 4 Maret 2013, Choel sendiri mengakui hal itu dan sudah mengembalikan uang sebanyak 550 ribu dolar AS tersebut.

“Entah bagaimana tampaknya perlu waktu empat tahun untuk KPK menetapkan saya sebagai tersangka. Sampai hari ini pun saya belum menerima surat cekal, belum menerima pula surat penetapan tersangka dan sebagainya,” kata Choel.

Choel Mallarangeng disangka melanggar pasal 2 atau pasal 3 UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUH Pidana sehingga terancam penjara seumur hidup atau semaksimal 20 tahun denda paling banyak Rp1 miliar.