42 Tahun Malari, Hariman Minta Pemerintah Koreksi Kesenjangan

Jakarta, Sayangi.com – Acara peringatan Malapetaka 15 Januari (Malari) ke-42 yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jum’at (15/1) malam terlihat beda dari biasanya. Kali ini panitia lebih menonjolkan tema kebudayaan dengan menampilkan banyak pembacaan puisi yang berisi kritik sosial dan diselingi pertunjukan musik.

Tak ada orasi politik seperti biasanya,  meskipun sejumlah tokoh aktivis politik lintas generasi dari berbagai latar belakang tampak hadir. Mereka yang hadir antara lain Akbar Tandjung, Djoko Santoso, Fuad Bawazier, Fahri Hamzah, AS Dilon, Todung Mulya Lubis, Kartini Syahrir dan ratusan aktivis lainnya.

Dari unsur pemerintahan turut hadir Menko Kemaritiman Rizal Ramli dan Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara. Hadir juga dari anggota Tim Komunikasi Presiden Sukardi Rinakit dan Direktur Eksternal Kantor Staf Presiden Beator Suryadi.

Peringatan Malari kali ini memang secara khusus diisi dengan peluncuran buku puisi-puisi karya Teguh Esha yang berjudul “Indosara”. Teguh meminta tokoh Malari Hariman Siregar untuk meluncurkan buku puisi karyanya.

“Sahabat lamaku patriot besar Hariman Siregar, tolong luncurkan buku gue ini,” kata Teguh Esha.

Sesaat kemudian, Hariman meluncurkan buku tersebut dengan resmi dan mebagikannya kepada para mantan personel Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yaitu Judilherry Justam, Gurmilang Kartasasmita, dan Berlian. Hariman sendiri adalah Ketua Dewan Mahasiswa UI pada saat peristiwa Malari meletus 15 Januari 1974.

Dalam sambutan singkatnya Hariman mengajak para hadirin tetap optimis terhadap demokrasi. Menurutnya, musuh demokrasi yang paling nyata adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dia kemudian menungkapkan perlunya pemerintahan Jokowi melakukan koreksi terhadap kesenjangan ekonomi yang selama ini terjadi. Ia juga mengusulkan perlunya industrialisasi untuk mengentaskan kemiskinan.

“Harus ada industrialisasi yang memadai. Tak mungkin melawan kemiskinan tanpa itu,” kata Hariman.

Lebih lanjut Hariman menyampaikan perlunya Indonesia membatasi ketergantungan kepada impor. Sebab secara demografi indonesia hampir menyamai benua Eropa. 

Dengan mengutip mertuanya Profesor Sarbini, menurut Hariman pembangunan Indonesia seharusnya dilakukan dengan perdagangan antar pulau dan antar daerah di nusantara. Dengan penduduk 250 juta jiwa Indonesia diyakini mampu mendinamisasikan pembangunan nasionalnya.

Hariman tak lupa menyampaikan kritik terhadap pola pembangunan pemerintah yang dianggapnya sebagai sebuah dilema. Ia mencontohkan gencarnya investasi asing di bidang infrastruktur yang mensyaratkan sumber tenaga kerja dari negara asal investor.

“Ini tanah kita tapi kita tak bisa kerja disitu. Nanti setelah jadi kita juga tak bisa memakainya karena harus bayar,” ujar Hariman.

Meski optimis terhadap proses demokrasi di Indonesia, namun Hariman berpandangan keberhasilan demokrasi tidak bisa diukur dengan Pilkada serentak yang tidak rusuh. Menurutnya, ada dua hal yang juga bisa menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah demokrasi yaitu ketaatan pada hukum (legal system) dan social system.

‎Di tengah Hariman memberi sambutan terdapat hadirin yang berteriak mempertanyakan kenapa ia tidak melawan Jokowi. Hariman dengan santai menjawab, “Jokowi itu adik kita”.

Hariman kemudian mengungkapkan bahwa 3 menko di pemerintahan Jokowi-JK adalah teman dekat dia. Begitu juga di tingkat menteri teknis juga banyak temannya. Ia menyebut nama Rudiantara dan Susi Pudjiastuti. Sedangkan 3 Menko yang diakui Hariman teman dekatnya adalah Darmin Nasution (Menko Perekonomian), Luhut Panjaitan (Menko Polkam), dan Rizal Ramli (Menko Kemaritiman). Hadirin pun ada yang nyeletuk bagaimana dengan Menko PMK Puan Maharani?

“Puan adalah anak kita,” jawab Hariman disambut tepuk tangan gemuruh.