Buku Cholid Ghozali (1): Bunga Rampai Pemikiran Jenderal Humanis

Foto: Seknasjokowi.org

Jakarta, Sayangi.Com– Desember 2015 lalu, Seknas Jokowi meluncurkan buku berjudul “Cholid Ghozali dari Belitang ke Leavenworth”. Secara sepintas buku ini terlihat seperti sebuah biografi. Tapi setelah dibaca, buku setebal xviii + 302 halaman ini, ternyata merupakan kumpulan tulisan Mayjen (purn) TNI Cholid Ghozali yang sebelumnya tersebar di sejumlah media dalam rentang tahun 1980-an sampai 2015. Topik yang ditulis beragam, bukan cuma cerita “sejarah perjuangan bapak” seperti isi buku biografi atau memoar.

Selain tulisan terkait kemiliteran dan pertahanan, sesuai latar belakang Cholid Ghozali sebagai tentara, buku ini juga menghimpun sejumlah tulisan human interest yang menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Ada tulisan tentang sisi humanis presiden-presiden Amerika Serikat. Ada kisah cinta rahasia Laksamana Nelson yang berakhir tragis. Ada cerita (untold stories) terkait beberapa tokoh yang menentukan perjalanan karir Cholid, antara lain Feisal Tanjung, Akbar Tandjung, dan Taufiq Kiemas. Juga kenangan Cholid terhadap beberapa orang gurunya saat di SMP, di Kota Palembang, yang berdedikasi dan punya teknik mengajar sangat mengesankan. Begitu mengesankan, hingga ia bisa terus mengingat apa yang mereka ajarkan.

Aris Santoso, editor buku ini, mengelompokkan berbagai tulisan Cholid dalam tiga bagian: human interest, kebangsaan, dan pertahanan-keamanan. Ditambah bagian keempat berisi komentar dari 15 sahabat, yang sekaligus merupakan testimoni terhadap sosok Cholid sebagai tentara yang cerdas, humanis, periang, dan mudah bergaul.

Buku ini ditutup dengan sejarah ringkas Cholid Ghozali sejak masa kecil di Belitang (OKU Timur), masa pendidikan di AMN, masa dinas aktif di TNI AD hingga pensiun tahun 1998, cerita tentang kegilaannya terhadap permainan catur, berbagai aktivitas politik, sampai perannya dalam pembentukan Baitul Muslimin Indonesia, organisasi sayap PDI Perjuangan.

Prof. Salim Said, dalam kata pengantarnya, menyebut: “tulisan-tulisan Cholid Ghozali dalam buku ini hanya mungkin ditulis oleh orang yang bacaannya luas, rasa ingin tahunya besar.”

***

Beberapa tulisan dalam buku ini menunjukkan minat serius Cholid Ghozali terhadap Ilmu kemiliteran (military science), sejarah perang di berbagai belahan dunia beserta para tokoh yang terlibat di dalamnya. Secara menarik, Cholid mengaitkan berbagai ilmu kemiliteran dan sejarah perang itu dengan konteks perkembangan sosial politik di Indonesia.

Cholid misalnya mengulas tiga teori Carl Von Clausewitz, dalam bukunya: “On War”, yang diterbitkan tahun 1833, namun sampai sekarang masih menjadi acuan para panglima perang di seluruh dunia. Tiga teori itu adalah center of gravityline of communication, dan culminating point of victory.

Center of gravity, yang secara singkat bisa diartikan sebagai pusat kekuatan sekaligus kelemahan lawan, digambarkan sebagai sesuatu yang universal namun bersifat elusive (tidak mudah ditangkap). Di masa lalu, para panglima perang seperti Hannibal bagi Cartagena, Iskandar Agung bagi Macedonia, atau Gajah Mada bagi Majapahit, dapat berperan sebagai center of gravity. Sesuai dengan perkembangan zaman, center of gravity bisa ibukota negara, pusat industri militer, pimpinan 
perang,  sikap masyarakat setempat, atau gabungan dari unsur-unsur itu.

Menurut Cholid, kekalahan telak Amerika Serikat (AS) dalam perang Vietnam adalah akibat dari kesalahan menentukan center of gravity pihak lawan. Sebaliknya, Vietnam melakukan strategi perang yang tepat. Kemauan berperang pasukan AS hancur oleh kegigihan perang gerilya dan perang opini publik yang dilancarkan Vietnam Utara. Padahal pasukan AS didukung persenjataan hebat dan secara taktikal banyak memenangkan pertempuran (battle).

Kegagalan Uni Sovyet dalam perang di Afghanistan, menurut Cholid, juga karena salah dalam menentukan center of gravity pihak lawan. Uni Sovyet terlalu yakin pada kerapuhan nasionalisme Afghanistan akibat kuatnya fanatisme berbagai suku besar di negara itu yang relatif berimbang (a.l. Pusthu, Baluchi, Tajik, Uzbek). Ternyata berbagai suku di Afghanistan itu bisa dipersatukan oleh fanatisme agama (Islam) dan semangat anti asing.

Belajar dari sejarah perang di banyak negara, Indonesia tampaknya harus bisa menentukan apa yang menjadi center of gravity negara ini. Menurut Cholid, TNI yang kompak dan profesional bisa berada di garda depan. Itu saja tentu tidak cukup, karena kemenangan perang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan angkatan perang suatu negara, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor kekuatan moril dan psikologi.

Cholid juga mengulas secara menarik berbagai sejarah perang serta dampaknya terhadap perjalanan sejarah dunia, seperti perang Ramadhan 1973 antara Israel dan gabungan negara Arab, kegagalan pasukan Hitler di Stalingrad, serta perang pasifik antara Jepang dan AS (beserta profil dan karakter Laksamana Isoroku Yamamoto sebagai panglima pasukan Jepang dan Jenderal Douglas MacArthur sebagai pahlawan perang AS di kawasan Pasifik).

Dari buku ini, kita juga bisa mengetahui berbagai lembaga pendidikan militer prestisius di AS, beserta para alumninya yang memimpin perang sejak Perang Kemerdekaan AS, Perang Saudara, Perang Dunia I dan II, hingga perang di kawasan Timur Tengah. Kita jadi tahu, beberapa panglima perang AS yang legendaris, ternyata bukan lulusan terbaik saat di akademi militer. Dwight D. Eisenhower, panglima sekutu di Eropa semasa PD II, yang sukses memimpin operasi pendaratan di Normandy, dan kemudian menjadi Presiden AS pada 1953-1961, ternyata hanya ranking 61 dari 154 lulusan West Point angkatan 1915. Jauh sebelumnya, Presiden AS 1989-1877 Ulysses S. Grant, juga hanya ranking 21 dari 39 lulusan West Point angkatan 1843.

Dengan contoh di atas, rasanya kita tidak perlu ribut jika ada Kepala Staf atau Panglima TNI yang bukan ranking 1 atau  penerima bintang Adhi Makayasa saat lulus dari Akademi Militer.

Minat Cholid Ghozali terhadap ilmu kemiliteran dan sejarah perang di manca negara, tidak terlepas dari pengalamannya semasa berdinas aktif di TNI. Cholid Ghozali pernah belajar di dua sekolah perwira militer yang sangat prestisius di Amerika Serikat. Pertama, di US Army Command and General Staff College (USA CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, yang 10 persen jatah kursi siswanya memang dialokasikan untuk perwira dari berbagai negara sahabat AS. Kedua, saat berpangkat kolonel, ia kembali ditugaskan mengikuti pendidikan di US Army War College di Pennsylvania (Class 1988).

Cholid adalah satu-satunya perwira TNI AD yang mendapat kesempatan belajar di USA CGSC, di Fort Leavenworth, sekaligus di US Army College, di Pennsylvania. Selain di dua lembaga prestisius itu, ia juga pernah ditugaskan mengikuti kursus selama 4 bulan di International Defence Management Course (IDMC), di Monterey, California.

Saat di USA CGSC Fortf Leavenworth, Cholid masuk class 1979, seangkatan dengan Lee Hsien Loong yang kini menjadi PM Singapura dan Khalid bin Sultan dari Arab Saudi yang pernah menjadi Panglima AD di negerinya. Perwira militer asal Indonesia yang pernah belajar di sini, antara lain Pahlawan Revolusi Ahmad Yani (class 1956), Jenderal Surono (1958), Jenderal Hartono (class 1976), Yunus Yosfiah dan Hendro Priyono (class 1980), Agus Widjojo (1988), Susilo Bambang Yudhoyono (1991), dan Agus Harimurti Yudhoyono (class 2015).

Cholid juga pernah tiga kali mengunjungi West Point, kampus akademi militer AS, di sebelah utara Kota New York, yang tidak menerima siswa dari negara lain. Di kampus yang berdiri sejak tahun 1802 ini, ia memperoleh kesan adanya penghargaan yang tinggi terhadap sejarah, terutama terhadap para alumni West Point yang menorehkan tinta emas sepanjang karir militernya. Penghargaan itu ditunjukkan mulai dari patung, museum, hingga bangunan yang diberi nama sang tokoh.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari berbagai lembaga pendidikan militer di AS itulah, Cholid mendapat tugas mengajar selama 5 tahun di Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI AD di Bandung, untuk mata kuliah: Strategi Militer, Taktik, dan Operasi Militer Satuan Besar.

Saat menjadi wakil asisten operasi di Mabes ABRI pada tahun 1992-1995, Cholid mengunjungi beberapa kawasan atau negara yang sedang mengalami konflik seperti Kamboja, Kroasia, dan Mogadishu (Somalia). Pengalaman dari kunjungan dinasnya ke kawasan konflik itu ia tuangkan dalam dua tulisan di buku ini, disertai catatan bahwa Indonesia perlu berpartisipasi dalam peace keeping operation sebagai perwujudan politik luar negeri yang bebas aktif.

***

Sebagai bunga rampai atau kumpulan tulisan, buku ini punya beberapa kekurangan. Topiknya terlalu beragam. Ada topik yang kurang dibahas secara mendalam. Sebaliknya, topik tertentu dibahas secara berulang dalam dua tulisan sehingga terkesan ada pengulangan.

Terlepas dari kekurangan yang ada, apa yang ditulis Cholid Ghozali dalam buku ini menarik. Harus diakui, belum banyak tokoh militer Indonesia yang menekuni studi tentang ilmu kemiliteran, sejarah perang di manca negara, dan pengaruhnya terhadap perjalanan sejarah bangsa-bangsa. Sebagian besar tokoh militer Indonesia umumnya lebih tertarik menulis memoar berdasarkan pengalaman menjalankan operasi militer dan situasi sosial politik di tanah air.

Di beberapa negara maju, buku-buku tentang ilmu kemiliteran dan sejarah perang sudah lama menjadi best seller. Buku On War karya Clausewitz, karya klasik Sun Tzu “The Art of War”, kisah penaklukan Jenghis Khan dan Timur Leng, kini tidak lagi menjadi kajian terbatas di sekolah-sekolah milter, tetapi sudah menjadi bacaan wajib para politisi dan pebisnis.

Beberapa topik tulisan dalam buku ini bisa dikembangkan menjadi tema diskusi menarik, misalnya dikaitkan dengan isu ketahanan bangsa dan wacana bela negara yang sedang hangat saat ini.

Selamat untuk Pak Cholid, semoga tetap produktif menulis.

Apresiasi juga layak diberikan untuk Ketua Presidium Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, yang telah menerbitkan buku ini.