Mantan KaBAIS Nilai UU Terorisme Tak Perlu Diubah

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) Soleman Ponto mengatakan revisi UU Terorisme tidak perlu dilakukan apalagi jika hanya untuk memberikan kewenangan Badan intelijen Negara (BIN) untuk menangkap.

“Jangan karena ketidaktahuan kita terhadap anatomi terorisme, aturan disalahkan. itu sudah benar.. Intelijen harus bermain di ranah aturan, bukan aturannya yang diubah,” kata Soleman dalam sebuah diskusi bertajuk “Kejanggalan dalam Peristiwa dan Penanganan Bom Sarinah” yang diseleggarakan oleh Institut Ekonomi Politik Soekarno-Hatta (IEPSH) di Resto Pempekita Tebet Jakarta, Selasa (19/1).

Soleman juga tidak setuju dengan ungkapan BIN dan BNPT dikebiri, karena hingga saat ini aturan soal terorisme masih belum ada perubahan.

“Kepala BIN bilang, BIN dan BNPT dikebiri. Dikebiri dari mana? UU-nya masih begitu, Perpresnya juga tetap. Tidak ada perubahan UU kok bisa bilang dikebiri,” ujar Soleman.

Ditegaskannya, menangkap bukanlah tugas pokok BIN, karena itu wewenang kepolisian. Intelijen fungsinya adalah pencegahan.

“Intelijen itu bisanya melihat indikasi and warning, makanya rahasia” katanya.

Soleman juga mengkritik berbagai informasi dan dugaan awal terkait bom Sarinah yang belum terkonfirmasi dan seharusnya menjadi konsumsi rapat malah diungkap ke publik sehingga melahirkan polemik dan debat kusir di masyarakat.

Sementara itu Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengungkap berberapa keanehan terkait bom di kawasan Sarinah Thamrin. Ia menyoal mengapa rombongan Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti begitu cepat berada di lokasi yakni hanya dalam waktu 10 menit dan udah mengenakan rompi anti peluru. Kedua, Neta mempertanyakan mengapa terorisnya tampak begitu tenang dalam menjalankan aksinya.

“Ketiga, kenapa muncul polemik dari BIN dan Polisi bahwa serangan tersebut dilakukan oleh ISIS,” kata Neta.

Keanehan lainnya, kata Neta adalah mengapa begitu cepat ada isu bom lain di sejumlah tempatĀ  yang belakangan ternyata tidak terbukti.

Keanehan terakhir menurut Neta adalah kurang transparannya polisi dalam mengungkap siapa penjemput dan pengantar para penyerang tersebut ke lokasi. Apalagi ada temuan mobil putih berplat D yang hasil pengusutannya belum diketahui publik.

Dalam diskusi yang dipandu Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) Hatta Taliwang itu turut hadir sebagai pembicara adalah Pengamat Militer Connie Rahakundini, Pengamat Teroris Umar Abduh, Direktur Global Future Institute Hendrajit, dan Pengamat Intelijen John Memphi.