Peluncuran Buku Yusril Ihza Mahendra di Ultah ke-60

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.Com– Politisi dan pakar hukum Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Sc, menggelar syukuran hari ulang tahun (HUT) ke-60 sekaligus meluncurkan empat jilid buku berjudul “Ensiklopedi Pemikiran Yusril Ihza Mahendra”.

Acara yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Sabtu (6/2), itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah tokoh nasional seperti Ketua MPR Zulkilfi Hasan, Jimly Ashiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, Sandiaga Uno, dan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana. Hadir juga adik Yusril yang saat ini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra.

Yusril yang dilahirkan di Manggar, Belitung Timur, pada 5 Februari 1956, mengaku tak terbiasa memperingati hari kelahiran.

“Bagi saya yang lahir sebagai orang kampung, yang di masa kecil hidup dalam kemiskinan, merayakan ulang tahun adalah suatu kemewahan yang tidak terbayangkan. Di masa kecil, sering hari ulang tahun dalam hidup saya berlalu begitu saja tanpa saya dan orang-orang di sekitar saya mempedulikannya,” kata Yusril.

Ia merasa bersyukur bisa mencapai usia 60 tahun, dan kesempatan ini ia manfaatkan untuk meluncurkan buku yang menghimpun pemikiran dan tulisan yang ia buat dalam rentang waktu antara tahun 1990-2015.

Ia mengaku, pergumulan pemikirannya banyak dipengaruhi Mohammad Natsir. Poin utama yang ia dapat dari tokoh Masyumi itu adalah dapat berpikir, berbuat dan bertindak dalam kehidupan nyata.

“Bukan berpikir dalam ruang hampa, sekadar untuk memenuhi dahaga intelektual belaka,” ujarnya.

Yusril berharap, potensi kekayaan yang melimpah di Indonesia dapat digunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya dan bukan untuk sekelompok pihak.

Dalam percaturan global, menurutnya, Indonesia dapat memainkan peran yang besar agar tidak tenggelam di era globalisasi. Begitupun pemerintah pusat harus dapat menjaga integrasi nasional, diantaranya dengan berbuat adil, dan tidak centang-perenang.

“Jika pemerintah pusat lemah, maka daerah-daerah akan mudah terprovokasi untuk melepaskan diri. Pemerintah yang kuat bukanlah berarti pemerintahan yang bersifat diktator, namun tetap sebuah pemerintahan demokratis,” katanya.

Yusril merasa beruntung ada sosok Hafid Abbas yang bekerja keras menyusun tulisan, wawancara, ceramah dan pidato yang pernah ia buat, sehingga menjadi buku. Menurutnya, tulisan itu dikerjakan tidak dalam ruang hampa. Ia merefleksikan berbagai peristiwa konkret yang mewarnai perjalanan bangsa dan negara, lalu mencarikan jalan keluar terkait beragam masalah itu.

“Atas kerja Prof Dr Hafid Abbas dan kawan-kawan, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” kata Yusril.

***

Yusril menyelesaikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), meraih M.Sc di University of the Punjab, Pakistan (1985), dan gelar Doktor Ilmu Politik di Universitas Sains Malaysia (1993). Ia memulai karir dengan mengajar di Fakultas Hukum UI pada mata kuliah Hukum Tata Negara dan Teori Ilmu Hukum, hingga memperoleh gelar Guru Besar Ilmu Hukum.

Pada tahun 1998, Yusril mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) dan menjadi ketua umumnya hingga tahun 2005. Setelah itu ia menjabat Ketua Majelis Syura di partai yang dijuluki sebagai pewaris Partai Masyumi itu. Namun, pada Muktamar PBB tahun 2015, ia kembali terpilih menjadi Ketua Umum DPP PBB periode 2015-2020.

Yusril pernah menjabat menteri kabinet di era tiga Presiden, yakni Menteri Hukum dan Perundang-undangan di era Presiden Abdurrahman Wahid, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia pada masa Presiden Megawati, dan Menteri Sekretaris Negara pada kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jilid pertama.

Selain aktif berpolitik, Yusril juga rajin menulis buku, jurnal, dan kolom di media massa. Tulisannya terutama berkisar masalah hukum tata negara dan politik Islam. Bersama adiknya Yusron Ihza Mahendra, ia juga mendirikan firma hukum Ihza & Ihza.