M. Nasih: Twitter Yusron Peringatan Agar Konflik Etnis Tidak Terulang

Jakarta, Sayangi.Com– Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) marah atas twitter duta besar RI untuk Jepang Yusron Izha Mahendra. Ahok menuding kicauan Yusron provokatif dan rasialis.

Berbeda dengan Ahok, pakar ilmu politik dan pengajar Pascasrajana Universitas Indonesia (UI) Dr Mohammad Nasih menilai bahwa kicauan Yusron justru merupakan peringatan arif agar kita merenungkan sejarah konflik etnis yang dulu pernah terjadi sehingga tidak terulang lagi.

“Sebab, situasi dan kondisi politik yang terjadi saat ini, sangat potensial mengarah ke sana akibat Ahok yang sering bersikap arogan,” ujar Nasih kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (2/4/2016).

Seperti diketahui, melalui melalui akun Twitter-nya @YusronIhza_Mhd, Dubes RI untuk Jepang itu pada 28 Maret lalu berkicau tentang Ahok: “Nasehat Jendral bintang 3 ini pantas direnungkan: Jika sayang dg etnis Cina yg baik, miskin & tdk bisa lari ke LN jika ada kerusuhan etnik. mk mohon Ahok tdk arogan dlm memerintah. Kasihan dg Cina2 lainnya yg miskin, baik & tdk salah jika mrk jd…”

Dalam penilaian Nasih, kicauan Yusron sebenarnya hanya mengutip pandangan mantan KASAD Jenderal TNI (purn) Johanes Suryo Prabowo dan tidak memuat kata-kata bernada rasis. Yusron hanya memberi catatan, yaitu “Nasehat Jenderal Bintang Tiga Ini Pantas Direnungkan.”

Nada kalimat Yusron itu, kata Nasih, bersifat datar dalam arti bahwa keputusan atas renungan itu diserahan kepada yang membaca.

Menurut Nasih, peringatan seperti di atas tidak hanya disampaikan Yusron, tetapi juga oleh sejumlah tokoh bangsa yang peduli dengan keselamatan dan masa depan bangsa seperti ekonom Prof. Sri Edi Swasono dan pakar politik Prof. Nazaruddin Sjamsuddin.

“Mengapa Ahok dan kawan-kawanya hanya menyerang Yusron dan tidak menyerang yang lain, seperti Jenderal Suryo, Sri Edi Swasono dan Nazaruddin. Hal lain yang juga layak dipertanyakan, mengapa Ahok dan pendukungnya hanya mem-“bully” akun twitter Yusron?” kata Nasih.