Aksi Mogok di Prancis Berlanjut, Menteri Ekonomi Dilempari Telur

Paris, Sayangi.com – Menteri Perekonomian Prancis, Emmanuel Macron, dilempari telur ketika aksi mogok berlangsung pada Senin.

Pemogokan itu digelar sebagai protes terhadap rencana reformasi ketenagakerjaan. Aksi itu telah mengganggu layanan kereta api selama enam hari berturut-turut kendati tampaknya mulai kehilangan kekuatan. Aksi mogok juga melemahkan pelayanan publik di tengah banjir di sejumlah kota Prancis, di antaranya Paris. 

Kepala Macron dipenuhi muncratan telur ketika para anggota garis keras serikat buruh CGT memojokkan dirinya di sebuah kantor pos di kota pinggiran Paris, Montreuil. Di kota itu, Macron sedang meluncurkan perangko dalam rangka memperingati 80 tahun pemerintahan yang telah memberikan hak-hak baru bagi buruh Prancis.

Macron penganjur reformasi ekonomi untuk melonggarkan aturan-aturan pasar buruh yang kaku serta untuk memajukan fleksibilitas dan kompetisi. Ia telah menjadi momok bagi kalangan kiri tradisional. Secara sederhana, kini majikan lebih mudah mengangkat pegawai pun lebih mudah juga memecat pegawai. 

“Ini semua adalah hal yang normal tapi tidak akan mengganggu tekad saya,” kata Macron kepada para wartawan setelah serangan telur itu.

Ia mengatakan,  mereka yang menolak perubahan tidak akan memiliki masa depan ekonomi yang baik.

Kendati insiden terjadi, jumlah orang yang berpartisipasi dalam pemogokan dan aksi protes terhadap reformasi ketenagakerjaan mengalami penurunan.

Hanya 8,5 persen pekerja kereta api yang masih melakukan pemogokan, kata perusahaan kereta api negara, SNCF, menjelang berlangsungnya perundingan kunci antara pihak manajemen dan serikat buruh soal pengaturan kembali jam kerja.

Jalur-jalur kereta api masih terganggu cukup parah pada saat perusahaan kereta berupaya untuk mencapai kesepakatan sebelum putaran final Euro 2016 di Prancis dimulai pada Jumat.

Sekitar 60 persen kereta api cepat TGV (Train a Grand Vitesse) dan biasa masih beroperasi sementara sepertiga rute antarkota beroperasi lebih lambat.

Presiden Francois Hollande, yang beraliran sosialis, meningkatkan tekanan terhadap CGT.

Ia mengatakan, Minggu, dirinya tidak bisa mengerti jika pemogokan pekerja kereta api dan perusahaan penerbangan sampai membuat para penggemar tidak dapat menyaksikan pertandingan-pertandingan sepak bola, yang akan berlangsung selama satu bulan itu.