Aplikasi Telegram Jadi Media Komunikasi Bahrun Naim Bikin Bom

Jakarta, Sayangi.com – Bahrun Naim menggunakan aplikasi Telegram dalam menggerakkan anak buahnya membuat bom termasuk kepada ua teroris yang ditangkap di flyover Kalimalang, Jakarta Timur, Nur Solihin dan Agus Supriyadi.

Keduanya merupakan sel kecil teroris di tanah air bentukan pimpinan Jaringan Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) itu.

“Mereka ini adalah sel-sel kecil bentukan BN (Bahrun Naim), dan mereka pun belajar membuat bom melalui komunikasi dari BN melalui telegram,” jelas Kabag Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono saat jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Minggu (11/12/2016).

JADKN merupakan kelompok yang baru terbentuk Maret 2016 lalu yang dipimpin oleh Bahrun Naim. Kelompok ini berafiliasi dengan Islamic State of Syrian and Iraq (ISIS) Suriah untuk membentuk jaringan ISIS di Indonesia.

“Memang mereka berafiliasi dengan ISIS Suriah, dan jaringan ini memang ada,” ungkapnya.

Nur Solihin dan Agus Supriyadi merakit bom berdaya ledak tinggi di Solo. Mereka kemudian membawa bom rakitan dalam panci presto tersebut ke Jakarta untuk kemudian diserahkan kepada perempuan bernama Dian Yulia Novi (DYN).

Rencananya, Dian dipersiapkan sebagai calon pengantin yang akan meledakkan bom tersebut di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada saat pergantian jaga Paspampres pada pagi tadi. Namun berkat kesiagaan tim Densus, upaya tersebut digagalkan.

Pada Sabtu (10/12) kemarin, tim Densus menangkap Dian di rumah kontrakannya di Jl Bintara Jaya VIII, Kota Bekasi dan Nur Solihin serta Agus Supriyadi di bawah flyover Kalimalang, Bekasi. Selanjutnya Densus 88 menangkap S alias Abu Ijah yang berperan sebagai perakit bom panci di Karanganyar.

Pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan, sangat wajar jika Naim berada di balik rencana aksi teror di Indonesia. Sebab, yang bersangkutan terus berkomunikasi dengan kelompok-kelompok teror di tanah air.

”Melalui aplikasi telegram, dia selalu memberikan arahan,” ujarnya kepada wartawam kemarin.

Bahkan, arahan itu sampai pada tata cara membuat bom dengan bahan-bahan yang sederhana dan mudah diperoleh. ”Dia membagi pengetahuannya sampai mendasar,” kata Chaidar.

Petunjuk-petunjuk pembuatan bom tersebut bahkan telah tersebar di antara kelompok-kelompok teror itu. Saling share pengetahuan membuat bom tersebut sangat berbahaya.

“Mereka biasanya praktik membuat bahan dan melakukan uji coba,” ujarnya.

Praktik pembuatan bom semacam itu bisa mengancam masyarakat. Sebab, bila dilakukan asal-asalan, bom bisa saja meledak sewaktu-waktu. ”Sering kita dengar bom meledak saat dirakit,” ucapnya.

Chaidar yakin kemampuan merakit bom dan bahan peledak akan terus berkembang selama Naim bisa berkomunikasi dengan kelompok teror.

Saat ini Naim memiliki hubungan dengan kelompok Ustad Afif yang pada awal 2015 pernah ditangkap karena mengajak masyarakat bergabung dengan ISIS.

”Tapi, akhirnya Afif ini dilepas karena hukum tidak bisa menjerat,” katanya.

Ada kemungkinan Afif juga terhubung dengan empat orang yang tertangkap di Bekasi dan Karanganyar.

Chaidar menjelaskan, selain Afif, memang ada kelompok lain yang cukup kuat di Bekasi.

Langkah utama yang perlu dilakukan, tutur Chaidar, ialah membuat terobosan menghentikan Naim.

”Kalau bisa dipangkas Bahrun Naim ini, kemampuan kelompok teror akan menurun drastis,” ucapnya.