Aktivis dan Jurnalis Tanding Catur Rebut Piala Ketum HIPMI

Bahlil saat menyampaikan sambutan dalam acara Kejuaraan Catur di Resto Pempekita, Sabtu (24/12)
Bahlil saat menyampaikan sambutan dalam acara Kejuaraan Catur di Resto Pempekita, Sabtu (24/12)

Jakarta, Sayangi.com – Ratusan aktivis dan jurnalis bertanding catur di Resto Pempekita, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (24/12). Mereka memperebutkan piala Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia.

Pertandingan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB. Beberapa aktivis senior tampak hadir, seperti Bursah Zarnubi yang sekaligus tuan rumah kejuaraan ini; sosiolog Syahganda Nainggolan, dan aktivis aliansi muslim profesional (Ampro) Syarief Shebubakar.

Di depan puluhan aktivis, Bahlil menceritakan sedikit perjalanan hidupnya, mulai dari jalan kaki sepanjang tiga kilometer saat masih duduk di bangku SD; datang ke Jakarta untuk berkarir di PB HMI, hingga memimpin HIPMI saat ini.

Masa awal-awal aktif di PB HMI, ia mengaku tidak memiliki senior dari daerah kelahirannya, yakni Kabupaten Fak Fak Papua.

“Saya tidak punya senior. Dulu, saya tidur di musholah PB HMI. Kalau saya enggak punya duit, saya minta ke Bang Bursah waktu beliau di Humanika,” kata Bahlil yang disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

“Abang ini tokoh pergerakan yang visioner, dan punya integritas yang tidak diragukan dalam perjuangan. Dia banyak membantu kami waktu “zaman jahiliyah”,” kata Bahlil sembari memuji Bursah Zarnubi.

Bahlil mengaku bangga bisa bersilaturrahim dengan para seniornya di kalangan aktivis.

Dalam sambutannya ini, Bahlil juga menuturkan tentang sulitnya menjadi ketua umum HIPMI. Sebab, selama ini kata dia, orang nomor satu di organisasi pengusaha kaum muda itu hanya berasal dari kalangan konglomerat saja.

“Saya jadi ketua umum HIPMI mungkin yang pertama dari kalangan aktivis. Karena semuanya yang jadi ketua umum kalua bukan anak jenderal, anak konglomerat, anak menteri, minimal anak gubernur. Yang dari anak jalanan sepatu miring cuma saya,” kata Bahlil.

Bahlil juga mengungkapkan bahwa paradigma berpikir para aktivis ke depan harus digeser ke dunia ekonomi. Aktivis kata dia, tidak cukup hanya berpikir perspektif politik saja.

“Mulai sekarang paradigm aktivis sudah harus digeser, dari berpikir intelektual idealis kenegaraan, mulai berpikir ke arah ekonomi, karena kecerdasan kita dalam membangun kebangsaan menjadi kurang berarti kalau tidak memiliki kekuatan ekonomi,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana saat ini kaum intelektual justru banyak yang bekerja sebagai pegawai bagi kepentingan asing dan aseng. Itu terjadi karena lemahnya mereka dalam berpikir perspektif ekonomi.

Setelah menyampaikan sambutan, Bursah tuan rumah acara ini Bursah Zarnubi langsung mempersilakan Bahlil untuk melakukan langkah pembukaan dalam pertandingan catur. Ia melawan juara catur pada bulan lalu, Agus Rusli.

catur piala hipmi bursah zarnubi catur aktivis