Arif Budimanta Ungkap Perbaikan Ekonomi Era Jokowi

Jakarta, Sayangi.com – Ekonom Arif Budimanta menjelaskan selama dua tahu pemerintahan Jokowi telah mampu membuat gebrakan yang berimplikasi pada perbaikan ekonomi Indonesia.

Hal itu diungkapkan Arif saat menjadi narasumber dalam diskusi Catatan Akhir Tahun bertajuk “Stabilitas Ekonomi-Politik-Keamanan Domestik Dan Persaingan di Pasifik dalam Trump Era, Posisi Strategik IndonesiaDan Manfaatnya” yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan(PGK) di Resto Pempekita Jalan Tebet Timur Dalam Raya 43 Jakarta Selatan, Rabu (28/12).

“Dari sisi ekonomi banyak sekali perubahan yang merupakan prestasi dari kerja Pak Jokowi. Pertumbuhan ekonomi dari 4,7 persen terus naik hingga di atas 5 persen. Jumlah kemiskinan juga menurun. Angka ketimpangan semakin membaik secara statistik dari 0,40 menjadi 0,39. Keadaan ini lebih baik meskipun kita ingin perbaikannya berjalan lebih cepat lagi,” kata Arif Budimanta. ¬†

Arif mengakui tantangan yang dihadapi sangat besar. Menurutnya, Pemerintahan Jokowi membawa satu paradigma perubahan yang substansial yaitu reformasi struktural.

“Reformasi struktural ini menyangkut tiga hal. Pertama, corak kebijakan seperti yang dikatakan Jokowi dalam melakukan kebijakan asymmetric development. Ini dicontohkan dengan alokasi dana desa senilai 10 hingga 40 triliun dan tahun depan menjadi 60 triliun, dan prosesnya cepat,” kata Arif.

Selain itu, kata Arif, dana transfer ke daerah yang saat ini nilainya lebih besar dari anggaran belanja pemerintah pusat. Dalam sektor riil, dia mencontohkan penggerak sektor ini berupa pembangunan infrastruktur yang secara besar-besaran dilakukan di luar jawa. Hal itu dilakukan pemerintah Jokowi untuk mengurangi ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah.

“Dalam hal kesehatan, 96 juta orang dibayarin jaminan kesehatannya oleh negara selama 12 bulan. Ini contoh asymmetric development,” katanya.

Yang kedua, lanjut Arif, alokasi sumber daya dalam mekanisme fiskal dan mekanisme sistem keuangan yang memiliki keberpihakan kepada rakyat. Presiden Jokowi, kata dia, berkeinginan bila ada orang yang baru berusaha terutama usaha kecil, mikro, dan menengah diberi akses kredit yang mudah dengan bunga yang murah.

“Pemerintah bekerja untuk itu. Suku bunga KUR tahun ini 9 persen, tahun depan 7 Persen dan itu disubsidi oleh pemerintah,” katanya.

Yang ketiga, adalah proses isntitusionalisasi yang base on actor. Hambatan yang terjadi saat ini, menurutnya, adalah institusionalisasi reformasi struktural. Perubahan paradigma ini mencakup cara kerja.

“Cara kerja meliputi siapa yang melakukan, itu adalah aktor. Aktor inilah yang sekarang terjadi kontestasi. Ada yang ingin pasar berjalan secara oligopoli, ada pula yang ingin monopoli, dan ada ingin pasar berjalan secara adil,” kata Arif.

Selain Arif Budimanta, dalam diskusi yang dipandu Bursah Zarnubi tersebut, turut hadir sebagai narasumber adalah  Syaganda Nainggolan dan Alfian Muthalib.