Di Markas PBB, Presiden Pemuda OKI Kecam Donald Trump

Ist

Jakarta, Sayangi.com – Tidak sampai dua minggu pasca-dilantik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangi kebijakan Imigrasi yang kontroversial. Trump benar-benar mewujudkan janji kampanyenya yang membatasi imigran dengan atas nama perlindungan terhadap kepentingan nasional Amerika dan pemberantasan terorisme.

Menanggapi kebijakan kontroversial ini, Presiden Pemuda Organisasi Kerjasama Islam Dunia (OIC Youth), Tantan Taufiq Lubis mengecam kebijakan tersebut. Menurutnya, kebijakan Trump dengan melarang masuknya warga dari tujuh negara yang mayoritas beragama Muslim berpotensi menimbulkan konflik dan mengganggu terwujudnya perdamaian Dunia.

“Kebijakan ini jelas mempermalukan Amerika sendiri sebagai negara kampiun demokrasi, negara tempat bersemainya kebebasan dan persamaan hak. Kebijakan Trump ini akan memantik permusuhan di berbagai belahan dunia, merusakan tatanan kerukunan umat beragama dan bukan tidak mungkin akan memancing konflik dan peperangan dalam skala yang lebih besar,” kata Taufiq melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (2/2) malam.

Kebijakan ini kata dia, menjadi bukti bahwa Trump memiliki kecurigaan yang berlebihan terhadap komunitas Muslim. Trump juga tidak menghargai norma-norma pergaulan global, di saat Dunia tengah getol-getolnya memberikan penghargaan terhadap nilai nilai universal hak asasi manusia dan demokrasi.

“Mestinya Trump melakukan penguatan terhadap nilai-nilai universal tersebut dan bukan malah meruntuhkannya,” tambah Taufiq yang juga Ketua DPP KNPI (Indonesia National Youth Council).

“Kini yang dikhawatirkan para artis Hollywood seperti Madonna, Jennifer Lopez, Jhon Legend, Jennifer Lawrence, para jaksa agung Amerika, penasehat hukum Gedung Putih, Barrack Obama dan tokoh dunia lainnya benar-benar terjadi, konflik sosial dan gesekan antar umat beragama meletus di Amerika, instabilitas terjadi seketika, setidaknya demonstrasi besar besaran terus menghadang rezim Trump, terjadi pembakaran mesjid di Texas, ancaman terhadap mesjid di Seattle dan penembakan ke mesjid di Quebec yang menimbulkan Korban enam muslim meninggal dunia dan puluhan lainnya terlibat pada saat Muslim tengah melakukan sholat Isya’.”

Melihat kondisi perdamaian dunia yang kian terancam, kerukunan umat beragama yang tercabik, dan tatanan etika pergaulan global yang mulai bergeser, kemudian semakin banyaknya tempat beribadah diteror, korban tak berdosa dari kalangan sipil Muslim, maka OIC Youth mengeluarkan lima pernyataan sikap.

Pertama, mendesak Presiden Donald Trump untuk menghentikan Kebijakan diskriminatif secara permanen. Kedua, mengecam keras serangan teror mematikan terhadap jamaah masjid di Quebec dan pembakaran masjid di Texas. Ketiga, mengapresiasi respons cepat Perdana Menteri Trudeau yang dengan tegas dan berani menyatakan “serangan ke masjid Quebec tersebut sebagai teror terhadap muslim. Keempat, mendesak agar pemerintah AS dan Kanada mengambil langkah-langkah strategis untuk menjamin keamanan masjid dan umat Islam yang melaksanakan ibadah di dalamnya.

“Kelima, menghimbau Presiden Trump dan pemimpin dunia Lainnya agar bersama-sama mewujudkan kondusifitas ruang global, perdamaian dunia dengan mengeluarkan kebijakan dan pernyataan yang bijaksana,” jelas Taufiq Lubis yang kini tengah mengikuti sidang pemuda Dunia di Markas PBB di New York Amerika Serikat.

“Pernyataan sikap ini lahir sebagai wujud kepedulian kami para pegiat pembangunan dunia kepemudaan Islam terhadap perdamaian abadi dunia, keseimbangan global dan penghormatan terhadap tatanan etika pergaulan dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal hak asasi manusia dan demokrasi.”