Kapolri Berharap HMI Perkuat Kemampuan Akademis, Tidak Terjebak Politik Praktis

Foto: Sayangi.Com

Jakarta, Sayangi.Com– Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian memuji keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tetap eksis di usianya yang menginjak 70 tahun. Ia berharap, kader-kader HMI dapat terus meningkatkan kemampuan akademisnya, mempertajam daya analisisnya, dan tidak terlalu dibawa ke politik praktis.

“Usia 70 tahun tetap eksis itu menunjukkan bahwa keberadaan HMI punya landasan filosofis yang sangat kuat. Maka, diterjang badai apapun, baik di masa orde lama maupun orde baru, HMI tetap survive,” kata Tito, saat menyampaikan kuliah umum pada silaturahmi nasional (Silatnas) Pimpinan HMI, di aula Nurcholis Madjid, Gedung Pusdiklat Graha Insan Cita, Depok, Minggu (12/2) malam.

Silatnas yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-70 HMI ini dihadiri oleh seratus lebih pimpinan Badan Koordinasi (Badko) dan Cabang HMI dari seluruh Indonesia.

Kapolri yang malam itu mengenakan baju batik bercorak cokelat lengan panjang, antara lain didampingi oleh Kapolresta Depok Kombes Herry Heryawan dan alumni HMI Bursah Zarnubi.

Menyampaikan ceramah tanpa teks selama dua jam, Tito memaparkan perkembangan dan dinamika yang terjadi di percaturan politik global. Mulai dari posisi Indonesia di era perang dingin, runtuhnya Blok Timur yang diawali oleh bersatunya dua negara Jerman dan pecahnya Uni Sovyet, gelombang demokrasi liberal yang melanda dunia sejak 1990-an, fenomena munculnya aktor-aktor non-state dari yang positif seperti Palang Merah Internasional atau FIFA hingga yang negatif seperti Al-Qaeda dan ISIS, serta kebangkitan ekonomi China yang dahsyat sejak negara berideologi komunis itu mengadopsi sistem ekonomi kapitalis.

Menurut Tito, kebangkitan China yang berpotensi menjadi negara superpower baru, diharapkan dapat menciptakan keseimbangan baru dalam percaturan global yang sejak tahun 1990 didominasi oleh AS dan negara-negara sekutunya dari Blok Barat.

Sebagai intelektual, kata Tito, kader HMI harus punya daya analisis yang tajam dan pandai membaca situasi, termasuk memahami perubahan yang terjadi dalam politik internasional.

“Jangan asal ikut-ikut demo tapi gak ngerti maksudnya, gak memahami dinamika situasi yang ada,  jangan seperti itu,” ujarnya.

Kepada Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir, Kapolri mengingatkan tentang adanya Lembaga Dana pengelola Pendidikan (LPDP) yang setiap tahun memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. Ia berharap HMI memanfaatkan lembaga ini untuk setidaknya bisa mengirim 100 anggotanya belajar S2 dan S3 ke luar negeri.

“Selesai studi kembali ke Indonesia, bisa membentuk lembaga think tank seperti ICMI yang analisisnya tajam dan memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa. Mereka juga akan mudah terserap menjadi birokrat, politisi, peneliti, atau sektor swasta. Dengan demikian HMI bukan hanya menjadi aset bangsa, tapi aset penentu perjalanan bangsa,” kata Tito.