HMI Jateng: Sikap Lelet Pemerintah Sebabkan Kematian Padmi

Ketum HMI Badko Jateng-DIY Husnul Mudhom
Ketum HMI Badko Jateng-DIY Husnul Mudhom

Semarang, Sayangi.com – Meninggalnya Padmi, salah satu peserta aksi cor kaki dalam rangka menolak pabrik semen Kendeng di depan Istana Negara mendapat sorotan dari elemen mahasiswa di Jateng. Menurut Ketua Umum Badko HMI Jateng-DIY Husnul Mudhom, leletnya sikap pemerintah menjadi penyebab utama meninggalnya wanita berusia 48 tahun tersebut.

Ditegaskan Husnul, sebenarnya bisa kejadian tersebut bisia dihindari kalau saja presiden Jokowi segera menemui peserta cor kaki. Sebab mereka yang melakukan aksi rata-rata sudah berusia lanjut. Staf Kepresidenan pun diharapkan bisa memberikan informasi akurat mengenai perkembangan aksi tiap hari sehingga informasi yang diterima Jokowi lengkap.

Huanul meyakini, kematian Padmi bisa menjadi sinyal bahwa polemik pabrik Kendeng akan memasuki tahap baru yang lebih krusial sebab tempat kejadian perkara berada persis di depan Istana Negara yang merupakan salah satu simbol negara.

“Jika bisa Jokowi menemui mereka langsung, tetapi kalau memang banyak agenda kan bisa pakai teleconference,” ujar Husnul kepada Sayangi.com, Rabu (22/03)

Lebih lanjut dirinya mengatakan setelah kejadian meninggalnya Padmi, Badko HMI Jateng-DIY akan menunggu keterangan resmi dari Jokowi untuk menjelaskan kasus ini. Diharapkan pemerintah bisa segera bertindak agar masyarakat tahu bahwa Jokowi tetap mengawal kasus ini seperti yang ia janjikan pada bulan Agustus 2016. Hal ini penting dilakukan agar masalah ini bisa segera diredam karena rawan diprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Ini sudah bukan lagi masalah pro dan kontra Kendeng, tetapi sudah menjadi masalah kemanusiaan yang menjadi pertimbangan utama,” tambahnya

Ke depan, Husnul berharap tidak akan ada korban jiwa lagi dalam peristiwa cor kaki ini. Karena perlawanan yang dilakukan oleh warga yang kontra memang tidak pernah menggunakan kekerasan.

Senada dengan Husnul, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) Badko HMI Jateng-DIY Nailul Muqorobin meminta elemen Mahasiswa di Jateng untuk tetap tenang dan jangan terprovokasi karena saat ini yang perlu menjadi prioritas adalah mengurus pemakaman Padmi terlebih dahulu, sikap reaksioner hanya akan memperburuk keadaan, baginya langkah pengawalan selanjutnya akan ditentukan setelah mendapat keterangan resmi dari Presiden.

Walaupun demikian, sesuai instruksi Ketua Umum, Badko HMI Jateng-DIY juga akan terus berkoordinasi dengan elemen mahasiswa di Jateng agar masalah ini tidak merembet kemana-mana, karena baginya , penyatuan visi antar elemen mahasiswa bisa menjadi masukan yang berharga kepada Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK)

“Kami akan terus memantau perkembangan di Jakarta dan Rembang karena yang suarakan menanggapi meninggalnya Padmi adalah pesan kemanusiaan,” tukas Iluk.

Sebelumnya diberitakan Aksi Cor kaki jilid II yang dilakukan di depan Istana Negara memakan korban Jiwa, salah satu petani JMPPK bernama Padmi meninggal dunia karena terkena serangan jantung Selasa (21/3/17) dini hari. Rencananya hari ini jenazah akan dikebumikan di kampung halamannya di Pati. Aksi cor kaki yang dilakukan JMPPK di Jakarta dilakukan setelah gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerbitkan pergub bernomor 660.1/6 Tahun 2017 tertanggal 23 Februari 2017 yang isinya mengizinkan PT. Semen Indonesia untuk kembali mengeksplorasi pegunungan Kendeng dengan sedikit perubahan wilayah.

Padmi (berbaju hitam-tengah) yang ikut aksi cor kaki pakai semen di depan Istana Negara, meninggal dunia diduga serangan jantung (Foto: YLBHI)
Padmi (berbaju hitam-tengah) yang ikut aksi cor kaki pakai semen di depan Istana Negara, meninggal dunia diduga serangan jantung (Foto: YLBHI)