Telat Bayar SPP, Ratusan Mahasiswa IAIN Mataram Diberi Cuti Paksa

Aksi mahasiswa IAIN Mataram pada pertengahan Februari 2017 menuntut kampus agar tidak memaksa cuti mahasiswa yang telat membayar SPP/UKT kembali digelar/Foto: serikatmahasiswa.org

Mataram, Sayangi.Com– Ratusan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat, tidak bisa mengikuti perkuliahan akibat sanksi cuti paksa dari pihak rektorat karena terlambat membayar uang SPP.

“Ada 309 orang mahasiswa yang terdata. Sudah menerima daftar cuti 152 orang, 157 orang lagi masih dibahas,” kata Rektor IAIN Mataram Dr. H Mutawalli MAg saat menerima pimpinan dan anggota Komisi V DPRD NTB di Kampus IAIN Mataram, Rabu (22/3).

Mutawalli menegaskan, langkah ini dilakukan untuk memperbaiki dan menegakkan sistem administrasi, salah satunya tidak ada tunggakan uang SPP.

Menurut Mutawalli, sebelum sanksi cuti diberlakukan, pihak kampus sudah melakukan sosialisasi sebulan sebelum batas waktu pembayaran SPP yang berakhir pada tanggal 3 Februari 2017. Sosialisasi juga dilakukan melalui pamflet dan website kampus. Namun terkesan mahasiswa tidak menghiraukan.

Aturan ini diberlakukan berdasarkan hasil rapat yang memutuskan tidak ada perpanjangan waktu pembayaran SPP.

Sedangkan Wakil Rektor II IAIN Mataram Dr Amir Aziz menjelaskan, jumlah mahasiswa IAIN tercatat 12.000 orang. “Daripada terganggu oleh 309 orang, lebih baik kita tindak tegas,” ucapnya.

Unjuk Rasa Mahasiswa

Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi menjelaskan, kedatangannya bersama anggota Komisi V ke kampus IAIN Mataram untuk meminta klarifikas atas aspirasi para mahasiswa IAIN yang merasa dirugikan karena tidak diberikan register akibat telat membayar SPP.

“Mereka paparkan kepada kami bahwa akan diberi sanksi cuti secara paksa dan dipersulit pihak kampus, karena belum membayar SPP,” kata Mori.

Pada Selasa (21/3) lalu, sekitar 100 mahasiswa atas nama Aliansi Mahasiswa Indonesia Mataram menduduki kantor DPRD Provinsi NTB untuk meminta kepedulian anggota Dewan terhadap nasib ratusan mahasiswa IAIN Mataram yang dipaksa cuti oleh pihak kampus akibat terlambat membayar SPP.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa IAIN Menggugat, juga beberapa kali melakukan aksi unjuk rasa di Rektorat kampus IAIN Mataram setelah pihak kampus mengeluarkan SK Rektor yang akan mencuti paksakan mahasiswa yang menunggak pembayaran uang kuliah. Dalam aksinya, mahasiswa menilai kampus IAIN Mataram lebih mengedepankan kepentingan ekonomis daripada mencerdaskan mahasiswa.

DPRD NTB meminta kepada pihak kampus IAIN Mataram, agar sebelum mengambil keputusan, mempertimbangkan keringanan dan kelonggaran pada semester saat ini, kemudian pada semester berikutnya dipertegas aturan penyelesaian pembayaran.

“Intanggung jawab moral kami sebagai anggota Dewan, karena pendidikan sangat penting terhadap kemajuan daerah,” kata Mori Hanafi didampingi anggota Komisi V DPRD NTB, TGH Muammar Arafat.