Dituduh Berbohong, Saksi Meringankan Ahok dari PBNU Diboikot

KH Ahmad Ishomuddin (sebelah kiri Ahok) / Foto: Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Saksi dalam sidang ke-15 dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI (Ahok), KH. Ahmad Ishomuddin, kini diboikot warga Lampung. Pasalnya, saksi yang merupakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan dosen di IAIN Raden Intan Lampung itu dinilai telah melakukan pembohongan publik.

Hal itu diungkapkan KH. Bukhori Abdul Shomad, MA yang juga merupakan dosen IAIN Raden Intan Lampung. Ia menilai bahwa Ishomuddin sudah melakukan pembohongan publik, karena mengaku sudah bergelar doktor dan haji.

“Ahmad Ishomuddin sudah melakukan pembohongan publik, pertama (DR. KH. Ahmad Ishomuddin) belum pernah menyandang gelar Doktor karena belum pernah ada keterengan bahwa beliau menyelesaikan program doktoralnya alias di-DO dan juga belum melaksanakan haji,” kata KH. Bukhori dalam pesan singkat kepada wartawan, Kamis (23/3).

Tidak hanya itu. Kata dia, Ahmad Ishomuddin juga melakukan kebohongan lain, yakni menjadi saksi Ahok dengan mengaku sebagai ahli tafsir.

“Dia bersaksi sebagai pakar/ahli tafsir padahal ia bukan pakar tafsir. Ia adalah pengajar fiqh. Dia sudah melanggar etika/akhlak terhadap tradisi yang sudah dibangun dalam NU,” tegas KH Bukhori yang merupakan anggota MUI Lampung serta pimpinan ponpes Al Mujtama tersebut.

Oleh karenanya, Bukhori menyatakan akan memboikot semua bentuk aktivitas Ahmad Ishomuddin yang melakukan pembelaan terhadap penista agama.

Dari informasi yang dihimpun laman jabungonline, disebutkan bahwa beberapa masjid tempat Ishomudin mengisi majelis ta’lim berencana akan memboikot Ishomudin karena sikapnya yang membela penista agama. Salah satunya di Masjid Al Muslimin.

“Berdasarkan hasil rapat pengurus Masjid Al Muslimin bahwa Ahmad Ihsomuddin kemungkinan tidak sebagai pemateri lagi di masjid Al Muslimin,” kata salah satu pengurus masjid Ustadz Tirmidzi yang juga Imam Masjid tersebut.

PBNU Beri Sanksi

Sebelumnya, jajaran pengurus Rais Syuriah PBNU sudah melakukan rapat atas apa yang telah dilakukan oleh Ishomuddin.  Dalam rapat gabungan yang dilakukan, Rais Aam PBNU K.H. Ma’aruf Amin menyatakan memberikan sanksi untuk menurunkan posisi Ishomuddin dari Rois Syuriah PBNU menjadi Tanfidziyah.

Rois Syuriah PBNU juga meminta agar Ishomuddin membuat surat pernyataan dan menyatakan penyesalan atas tindakan yang telah ia lakukan.

Namun hingga saat ini surat penyataan tersebut belum dibuat. “Itu pun kita tidak tahu kalau dia betul-betul jadi saksi. Kita pikir waktu itu dia sudah mengundurkan diri,” katanya.

Dia menambahkan, jika Ishomuddin benar-benar hadir dipersidangan untuk menjadi saksi, maka itu artinya peringatan yang telah disampaikan oleh  PBNU dan ahli Syuriah tidak diindahkan.

“Dalam arti PBNU dan ahli Syuriah dianggap tidak punya gigi,” tambah K.H. Miftah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ishomuddin memberikan kesaksiannya di persidangan ke-15 atas kasus penodaan agama yang didakwakan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang digelar di Auditorium Kementrian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Dalam kesaksiannya, Ishomuddin mengatakan, untuk mengetahui apakah Ahok benar-benar menista agama harus menonton videonya terlebih dahulu. Namun itu pun kata dia, juga masih belum cukup, karena harus juga mendengar keterangan Ahok mengenai niat yang dia sampaikan dalam pidatonya itu.

“Karena dialah (Ahok) yang paling tahu apa niatnya. Apakah ada niat untuk menodai atau tidak. Karena logikanya tidak mungkin seseorang yang ingin dipilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan sengaja menodai sesuatu yang disucikan atau dianggungkan oleh pemilihnya,” ujarnya dalam sidang tersebut.