Bupati Non-aktif Banyuasin Yan Anton Divonis 6 Tahun Penjara

Bupati non-aktif Banyuasin Yan Anton Ferdian/Foto: Antara

Palembang, Sayangi.Com– Majelis hakim Pengadilan Tipikor di Palembang, Kamis (23/3), memvonis Bupati non-aktif Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, Yan Anton Ferdian, dengan hukuman enam tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider satu bulan kurungan.

Selain itu, majelis hakim yang terdiri dari Arifin, Haridi dan Paluko, juga mencabut hak politik Yan Anton selama tiga tahun terhitung sejak menyelesaikan masa hukuman, atau lebih pendek dua tahun dari tuntutan jaksa.

Vonis 6 tahun penjara untuk Yan Anton juga lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta hakim menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider tiga bulan kurungan.

Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan Yan Anton terbukti melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah Undang-Undang No 20 tahun 2001.

Atas putusan hakim itu, terdakwa Yan Anton menyatakan menerima, sementara jaksa masih pikir-pikir.

Empat Terdakwa Lain

Dalam persidangan hari ini, Pengadilan Tipikor di Palembang pada hari ini juga membacakan putusan terhadap empat terdakwa lain dalam perkara korupsi yang menjerat Bupati non-aktif Banyuasin Yan Anton.

Hakim menjatuhkan vonis hukuman masing-masing empat tahun penjara denda Rp200 miliar subsider satu bulan kurungan kepada Umar Usman (mantan Kepala Dinas Pendidikan), Rustami (Kasubag Rumah Tangga Pemkab Banyuasin), Sutaryo (Kasi Pengembangan Mutu Pendidikan Kadis Pendidikan Banyuasin) dan Kirman (Direktur CV Adi Sai).

Sebelumnya, pengusaha Zulfikar Muharrami telah dihukum 1,5 tahun penjara setelah terbukti menyediakan dana untuk menyuap Bupati Yan Anton.

Yan Anton ditangkap KPK pada 4 September 2016 saat menerima suap dari Zulfikar dengan perantara Kirman. Saat itu Yan Anton menerima bukti setor pelunasan ONH Plus atas nama dirinya dan istrinya senilai Rp531 juta.

Dalam persidangan terungkap bahwa Yan Anton kerap menerima gratifikasi dari pengusaha, yang memberi dia uang dengan imbalan proyek pada tahun anggaran mendatang. Kejahatan itu, menurut dakwaan jaksa KPK, telah berlangsung sejak 2012.

Yan Anton adalah putra eks Bupati Banyuasin sebelumnya, Amiruddin Inoed.

Sumber: Antara