Lion Film Drama Yang Menyentuh

Ilustrasi Film Lion. Foto CineMuseFilms
Ilustrasi Film Lion. Foto CineMuseFilms

Jakarta, Sayangi com. Lion merupakan sebuah film bergenre drama asal Hollywood. Film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata Saroo Brierley yang ditulisnya dalam sebuah novel berjudul A Long Way Home. Film ini disutradarai Garth Davis dan penulis skenario Luke Davies. Bangunan alur cerita dan penggunaan kalimat dalam filem Lion ini sangat indah dan menyentuh.

Filem ini berdurasi 129 menit di produksi : See-Saw Films, Aquaarius Films, Screen Australia, Sunstar Entertainment, Weinstein Company. Film yang mengambil lokasi syuting pertama pada bulan Januari 2015 di India ini. dijadwalkan ditayangkan. Filem ini telah diliris pada 25 November 2016,ditayangkan untuk pertama kali di Toronto.

Jajaran pemain Lion. Foto oleh www.news.com.au
Jajaran pemain Lion. Foto oleh www.news.com.au

Sinopsis Film drama berjudul “Lion”adalah film yang diangkat dari kisah nyata di mana seorang bocah lelaki yang berusia 5 tahun bernama Saroo ( Dev Patel ) yang tersesat saat melakukan perjalanan di kereta dari rumahnya di India Utara. Saroo yang masih kecil pun ketakutan dan bingung untuk menuju perjalanan menuju ke Kalkuta. Dia akhirnya berhasil mencapai sebuah terminal saat kereta api berhenti.

Satu ketika dia mendapatkan sebuah nasib yang cukup baik setelah pasangan Australia memutuskan untuk mengadopsinya. Akhirnya Saroo mengikuti orang tua angkatnya yang tinggal di Hobart Tasmania Australia. Kedua orang tua angkatnya sangat menyayangi dan memberikan perlindungan kepada Saroo.

Potongan adegan dari Filem Lion. Foto Hollywoodreporter.com
Potongan adegan dari Filem Lion. Foto Hollywoodreporter.com

Pada usianya yang masih terbilang muda, Saroo mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya di Australia. Dibantu oleh Ayah dan Ibu angkatnya, Saroo kecil mempelajari bahasa inggris secara perlahan. Tidak pernah membicarakan hal mengenai keluarga nya di India, bukan berarti Saroo kecil melupakan masa lalunya. Seringkali Saroo kecil menangis dan berteriak dalam bahasa Inggris bercampur bahasa India, ketika dia teringat bahwa dia tidak tahu arah jalan menuju rumah nya atau ketika ia ingat, saat di kampung halamannya. Ibu angkatnya tahu, tetapi tidak pernah memaksa Saroo untuk menceritakan masa lalu nya.

Adegan Saro bersama orang tua angkat. Foto Hollywoodreporter.com
Adegan Saro bersama orang tua angkat. Foto Hollywoodreporter.com

Duapuluh lima tahun kemudian, dan saat beranjak dewasa Saroo dengan berbagai cara agar tidak menyakiti perasaan orang tua angkatnya Saroo mencoba dengan rahasia yang tidak diketahui mereka,dengan Google Earth. Melalui aplikasi Google Earth,Saroo mulai mencari keluarga nya di India. Hingga akhirnya dia berada di kampung tempat tinggalnya.

Foto Holywoodreporter
Foto Holywoodreporter

Aku sudah memikirkan ini selama dua puluh lima tahun. Hidup dengan dunia yang berbeda, dengan nama baru dan keluarga baru, aku berpikir kapankah ada waktu untukku bertemu dengan ibu dan saudara saudariku lagi. Dan inilah aku, berdiri di depan sebuah pintu dalam sebuah rumah, di kota yang penuh debu di tengah-tengah India, tempat dimana aku kecil dulu.

Dan inilah aku, berdiri di depan sebuah pintu dalam sebuah rumah, di kota yang penuh debu di tengah-tengah India, tempat dimana aku kecil dulu. Pintu kecil memang dibuat kecil, saat ini aku harus membungkuk untuk bisa melewatinya. Lewat jendela kecil, aku masih bisa melihat ruangan kecil tempat keluargaku berkumpul dulu, dan ada sebuah kipas yang terpasang sangat pendek karena plafon ruangannya yang juga pendek .

Ini adalah rasa takutku yang terdalam, aku benar-benar sangat tertekan, saat pada akhirnya aku menemukan rumahku, setelah bertahun-tahun dalam pencarian, keluargaku justru tak ada di sana.

Ini bukan yang pertama kalinya dalam hidup aku kehilangan, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Saat ini aku akan berumur tiga puluh, saat ini aku sudah ada uang dan tiket untuk pulang, tetapi sepertinya akan sama dengan apa yang terjadi dengan waktu di kereta api dulu. Aku panik, pikiranku berputar tak karuan, aku sangat berharap andai saja waktu bisa kuputar kembali.

Foto New Kid on the Blog
Foto New Kid on the Blog

Tak lama, salah satu tetangga membuka pintu rumahnya, seorang gadis muda keluar dari sana, membawa seorang bayi.  Wajahku memang terlihat warga India, tetapi cara berpakaianku cukup menjelaskan gaya barat, terutama gaya rambut yang sedang tren, aku menjadi orang lain, orang luar.

Paling buruknya lagi, aku tak bisa berbahasa seperti bahasanya, sehingga saat dia mulai bertanya kepadaku, aku hanya mencoba menebak apa kira-kira pertanyaannya padaku. Aku memang mengetahui sedikit bahasa Hindi, tetapi aku tidak yakin bagaimana menyusunnya menjadi kata-kata yang tepat. Akhirnya aku mengaku, “aku gak bisa bahasa Hindi, aku hanya bisa berbahasa Inggris”. Aku merasa tersanjung saat dia berkata “Aku juga bisa bahasa Inggris, sedikit”.

Aku mulai mencari informasi tentang ruangan yang telah ditinggalkan itu, dan mulai mengungkapkan nama-nama orang yang pernah tinggal disana, “Kamla, Guddu, Kallu, Shekila”, dan aku menunjuk diriku dan aku katakan “Saroo” (namaku).

Kali ini, wanita itu terdiam cukup lama. Kemudian aku mengingat ada sesuatu yang diberikan oleh ibuku dari Australia, untuk situasi seperti ini. Aku mencari-cari dalam tas dan menarik sebuah kertas berukuran A4, sebuah foto saat aku masih kecil. Lagi-lagi, aku menunjuk foto itu dan mengatakan “kecil”, yang menyebut bahwa yang di foto itu adalah “Saroo”.

Aku berusaha mengingat siapa yang pernah tinggal di sebelah rumah saat aku masih kecil dulu di sini. Apakah dia wanita yang dulu sama-sama kecil denganku? Wanita itu pun melihat foto itu, melihatku dan berkata “Orang-orang, tidak lagi berada disini”. katanya.

Meski dia hanya mengatakan seperti itu, aku telah sangat lemas dibuatnya, aku bahkan tidak bisa bergerak dari depannya. Aku selalu ingat bagaimana aku menyusun perjalananku untuk kembali kesini, dan keluargaku sepertinya sudah pindah. Karena waktu aku kecil dulu pun kami sering pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai orang miskin, kami tidak bisa menetap di satu tempat jika tidak ada pekerjaan.

Kemudian muncul pikiran paling rumit dalam kepalaku. Kemungkinan lain, mungkin ibuku telah meninggal…Aku terduduk lemas. Tak lama, seorang pria muncul entah dari mana, dan aku kembali mencoba mengatakan nama-nama yang pernah kuingat, Kamla, Guddu dan Kallu, serta adik perempuanku Shekila, sementara aku adalah Saroo. Pria itu langsung menjawab, Ya? Apa yang bisa kubantu?”, katanya dengan jelas dalam bahasa Inggris.

Inilah orang yang bisa kuajak bicara dengan tenang sejak aku tiba di India. Dengan begitu cerita hidupku kujelaskan kembali. Dulu aku tinggal di sini, sudah sangat lama. Suatu waktu aku bersama saudaraku pergi jalan-jalan dan tersesat. Tak terpikirkan, tetapi aku sudah berada di negara lain. Aku tidak bisa lagi mengingat nama-nama tempat ini, tetapi aku mendapatkan jalan untuk kembali ke sini, ke Ganesh Talai, mencoba untuk mencari ibuku dan saudara-saudaraku.

Saroo bertemu dengan ibu kandungnya Foto Hindustan Times
Saroo bertemu dengan ibu kandungnya. Foto Hindustan Times

Dia terlihat sangat terkejut dengan semua cerita yang kusampaikan. Dan kemudian dia berkata “Tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali”, katanya lalu pergi. Pikiranku kembali berkecamuk,…mau kemana dia pergi? Apakah di luar sana ada orang yang mengetahui apa yang terjadi dengan keluargaku? Setidaknya sebuah alamat? Tapi tunggu dulu, apakah dia sudah tahu tentang diriku? Semoga saja….

Tak perlu lama aku menunggunya. Dia mengatakan sesuatu yang takkan pernah kulupakan “Mari ikut denganku.. Aku akan membawamu bertemu ibumu”.. END.

Overall, Lion merupakan film drama yang menarik dan sangat menghibur.  Saroo adalah salah satu bukti nyata bahwa teknologi dapat membantu di saat semuanya terasa mustahil. Dengan cerita yang simple dan mengharukan, Lion patut menjadi pertimbangan saat mencari film untuk dilihat bersama keluarga di akhir pekan

Diambil dari berbagai sumber