Tanpa Inggris, 27 Pemimpin Uni Eropa Tanda Tangani Kesepakatan Baru

Para pimpinan panel Komisi Eropa, dari kiri: Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani, PM Italia Paolo Gentiloni, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, dan PM Malta Joseph Muscat, menjelang dimulainya pertemuan KTT Uni Eropa di Roma, Sabtu 25 Maret 2017/Foto: AP

Roma, Sayangi.Com– Para pemimpin dari 27 negara anggota Uni Eropa menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Roma, pada Sabtu (25/3), untuk merayakan 60 tahun penandatanganan Pakta Roma yang melahirkan Masyarakat Ekonomi Eropa, cikal bakal Uni Eropa.

Pakta Roma tahun 1957 ditandatangani oleh enam negara: Belgia, Prancis, Italia, Luxembourg, Belanda dan Jerman Barat.

Dikutip dari AFP, dengan latar krisis dan ketiadaan Inggris yang akan meninggalkan serikat itu, para pemimpin Uni Eropa menandatangani kesepakatan baru berisi janji untuk tetap bekerjasama guna memastikan keberlangsungkan Uni Eropa di tengah krisis sekalipun.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, tentu saja tidak hadir dalam perayaan tersebut. May berencana akan meluncurkan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau yang disebut Brexit pada Rabu (30/3) mendatang.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menandatangani deklarasi baru kesatuan Uni Eropa itu dengan salah satu pena yang digunakan untuk menandatangani Pakta Roma pada tahun 1957.

Lewat pernyataannya di Twitter, Juncker mengungkapkan bahwa pena yang ia keluarkan dari saku jasnya digunakan pada tahun 1957 oleh delegasi Luksemburg, tepat 60 tahun lalu, saat enam negara pembuat deklarasi itu bertemu di Roma.

Setelah makan siang, para pemimpin Uni Eropa mulai meninggalkan Roma, sementara demonstrasi anti-Uni Eropa meluas.

Sambutan Paus

Paus Fransiskus menyambut para pemimpin ke Vatikan pada pertemuan Jumat (24/3) malam.

Dalam pidatonya, Paus mengatakan bahwa semua lembaga berisiko akan sekarat jika tidak memandang ke depan. Ia mendesak Uni Eropa untuk menyongsong masa depan dengan semangat yang baru.

Paus juga menyerukan untuk melawan “bentuk pengaman palsu” yang dijanjikan oleh kaum populis yang ingin membatasi diri mereka, dibandingkan menyerukan solidaritas yang lebih besar.