Akhiri Krisis 5 Bulan, PM Maroko Berhasil Bentuk Pemerintahan

Perdana Menteri Maroko Saadeddine El Othmani/Foto: AP

Rabat, Sayangi.Com– Hanya dalam waktu delapan hari setelah menjabat, Perdana Menteri Maroko Saadeddine El Othmani, berhasil membangun pemerintahan koalisi untuk mengakhiri kebuntuan selama lima bulan.

Dalam konferensi pers di Rabat, Sabtu (25/3), El Othmani (61) yang berasal dari “Partai Islam Untuk Keadilan dan Pembangunan” atau PJD, mengumumkan tercapainya perjanjian dengan enam partai politik untuk membentuk pemerintah koalisi.

“Kami akan melanjutkan langkah demi langkah,” ujar El Othmani, seperti dikutip Associated Press.

Othmani merupakan mantan menteri luar negeri dan pejabat nomor dua di PJD. Setelah ditunjuk Raja Maroko Mohammed VI untuk menjadi Perdana Menteri yang baru, pada 17 Maret lalu, Othmani dengan cepat menggerakkan upaya untuk menjembatani perbedaan diantara partai-partai yang bertikai.

PJD, yang merupakan partai Islamis moderat, memenangkan pemilu parlemen pada Oktober 2016 tetapi tidak meraih cukup kursi untuk memerintah sendiri. Pendahulu El Othmani, Abdelilah Benkirane, gagal membentuk pemerintahan koalisi dan justru mengasingkan mitra-mitra potensialnya.

Krisis berkepanjangan itu merugikan ekonomi dan citra Maroko, dan Raja Maroko telah memecat Benkirane pertengahan bulan ini lewat campur tangan yang jarang dilakukan.

“Sekarang kita telah menetapkan anggota koalisi pemerintah, tiga langkah yang masih harus dilakukan adalah: merumuskan alur dan struktur pemerintahan, menentukan portofolio kementerian, dan kemudian kementerian yang akan diatur oleh tiap partai dalam koalisi ini,” katanya.

Pemerintah koalisi baru yang didukung enam partai, termasuk PJD, partai-partai yang pro-pasar seperti RNI dan UC, partai konservatif MP dan partai-partai sosialis USFP dan PPS. Koalisi ini membuat mereka menguasai 240 dari 395 kursi di DPR atau majelis rendah parlemen.

Menteri-menteri kabinet dipilih oleh perdana menteri setelah berkonsultasi dengan pihak lain yang ikut membentuk pemerintahan koalisi, dan kemudian diangkat oleh raja.

Sumber: VOAIndonesia