Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kurang Meyakinkan

Ilustrasi / Foto: Istimewa

Pekanbaru, Sayangi.com – Ekonom Universitas Andalas Prof DR Elfindri berpendapat bahwa kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 kurang begitu meyakinkan karena hanya mencapai sekitar 0,01 persen. Artinya jika pertumbuhan saat ini 5,2 akan menjadi 5,3 saja.

“Kenaikan ini tidak signifikan, akan tetapi jika seandainya kenaikannya mencapai 1 digit saja maka akan cukup kuat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017,” katanya dihubungi dari Pekanbaru, Selasa (28/3).

Menurut dia, atas ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut memang diharapkan bisa mendorong perusahaan melantai di pasar modal dan melakukan penggalangan dana masyarakat melalui penawaran saham perdana (IPO).

Ia menilai wajar terkait sepanjang tahun ini baru terdapat satu emiten yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT).

“Dampak kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,01 persen maka elastisitasnya tidak akan banyak memberikan tambahannya di masa datang, karena kenaikan tidak terlalu tinggi, namun demikian perubahannya harus ada,” katanya.

Pertumbuhan satu emiten berhubungan dengan pelabuhan, wajar karena berkaitan dengan kebijakan Presiden Jokowi yang mempercepat dwelling time.

Sementara itu, pembangunan perkantoran dan perumahan pada 2017 tidak akan secepat dan jumlahnya tidak akan sama banyaknya pada tahun 2016 yang mencapai masa puncaknya pemerintah membangun sektor properti itu.

“Laju pertumbuhan properti mulai bermasalah, akan tetapi pengalihannya dari pembangunan pelabuhan akan bisa bergerak ke sana apalagi adanya kebijakan Presiden Jokowi untuk merencanakan pembangunan ke arah pelabuhan akan semakin besar terwujud,” katanya.

Untuk pembangunan sektor perumahan dan perkantoran sendiri akan ada deflasi, namun sedikit optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan relatif membaik akibat membaiknya ekonomi AS pascapemilu di negara adidaya itu.

Namun demikian, dampak Brexit ekonomi (mayoritas rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa) di Italia dan Inggris pada kisaran 0-1 persen begitu juga Jepang 1 persen dari sebelumnya tumbuh negatif. Dan China 6 persen tetap turun dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya.

Akan tetapi, China masih memegang peran dengan produksinya yang terus membanjiri Indonesia, akibatnya capital inflow ke Indonesai tinggi, dan membuka kemungkinan berinvestasi ke Indonesia.