Penyidik KPK: Miryam Sendiri Yang Menulis Rincian Pembagian Uang

Penyidik KPK Novel Baswedan/Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.Com– Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyatakan tak pernah mengintimidasi politisi Partai Hanura, Miryam S Haryani, saat yang bersangkutan diminta keterangan di Gedung KPK terkait kasus dugaan korupsi proyek KTP Elektronik (E-KTP).

Menurut Novel Baswedan, pemeriksaan berlangsung dalam kondisi yang nyaman, secara psikologis saksi tak terlihat tertekan saat dimintai keterangan, dan saksi sendiri yang menulis pada selembar kertas pokok-pokok serta rincian pembagian uang untuk anggota DPR. Setelah dirasa cukup, barulah penyidik KPK menuangkannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Saya pun tak pernah memeriksa saksi sampai mencret-mencret itu, enggak pernah ada, Yang Mulia,” kata Novel Baswedan, saat memberi kesaksian di Pengdilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (30/3).

Novel Baswedan dan dua penyidik KPK lainnya, yakni MI Susanto dan Ambarita Damanik, dihadirkan jaksa penuntut umum KPK untuk dikonfrontir dengan saksi Miryam S Haryani yang pekan lalu mencabut semua keterangannya dalam BAP.

Pada persidangan Kamis (23/3) pekan lalu, sambil terisak, Miryam mengatakan: “Saya cabut keterangan BAP saya, karena saya tertekan, digitu-gituin, penyidik bilang kemarin Azis Syamsuddin, Bamsoet (Bambang Soesatyo), diperiksa sampai mencret-mencret, penyidik makan duren masuk ruangan membuat saya mual, saya mau cepat-cepat keluar dari ruangan.”

Proses Pemeriksaan

Setelah terlebih dahulu menyatakan sumpah di bawah Al-Qur’an, Novel yang duduk bersebelahan dengan dua rekannya dari KPK serta Miryam S Haryani, ditanya oleh Ketua Majelis Hakim John Butar butar. Berikut petikannya.

Hakim: Kondisi ruangan tempat pemeriksaan bagaimanana?

Novel:  Di tengah ada kursi yang berseberangan dengan pembatas meja kami duduk berdekatan, yang bersangkutan duduk di depan, komunikasi dilakukan sebaik mungkin agar saksi merasa nyaman.

Hakim: Hanya ada penyidik dan orang yang diperiksa?
Novel: Betul

Hakim: Anda cukup yakin dia dalam kondisi nyaman?
Novel: Yakin, Yang Mulia

Hakim: Pola pemeriksaan bagaimana?

Novel: Pola pemeriksaan tidak selalu disamakan antara satu orang dengan orang yang lain, kita juga mempertimbangkan mengenai kondisi psikologis saksi. Saya lebih suka pola bercerita, bahkan saya lebih sering memberikan secarik kertas untuk saksi menuliskan kesaksiannya pada selembar kertas itu. Setelah semua dirasa cukup baru kami tuangkan pada BAP, jadi sama sekali tidak ada penekanan. Selesai diketik, kami serahkan ke yang bersangkutan untuk membaca secara keseluruhan isi BAP yang kita ketik tersebut.

Saat ditanya Hakim Franky, Novel Baswedan juga mengungkapkan bahwa saat pemeriksaan Miryam bercerita, dia heran karena sebelum pemanggilan dari KPK, rekan-rekannya di DPR sudah tahu lebih dahulu. Miryam pun diminta oleh rekannya di DPR untuk tidak mengakui jika ditanya terkait penerimaan uang.