Miryam Terus Berkelit, Jaksa Minta Hakim Nyatakan Beri Keterangan Palsu

Miryam Haryani dikonfrontasi dengan penyidik KPK dalam sidang lanjutan kasus e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (30/3).
Miryam Haryani dikonfrontasi dengan penyidik KPK dalam sidang lanjutan kasus e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (30/3).

Jakarta, Sayangi.com – Saksi kasus e-KTP, Miryam S Haryani terus berkelit dan membantah telah menerima uang dan membaginya ke sejumlah anggota Komisi II terkait kasus e-KTP.

Bantahan Miryam terus dilakukan meskipun terdakwa kasus e-KTP Sugiharto menyatakan Miryam S Haryani telah menerima empat kali uang darinya.

“Yang yang pertama Rp 1 miliar, kedua USD 500.000, ketiga USD 100.000, keempat Rp 5 miliar. Total Rp 1,2 triliun atau USD 1 juta 200,” kata Sugiharto yang saat itu merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK), di persidangan kasus korupsi e-KTP, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (30/3).

Mendengar pernyataan Sugiharta, Ketua Majelis Hakim Jhon Hasalan Butar Butar lantas langsung mengatakan kepada Miryam bahwa bantahannya telah disangkal oleh Sugiharto. Hakim lantas menyatakan pernyataan Miryam yang membantah telah menerima uang tidak benar.

Namun, Miryam terus konsisten dengan bantahannya. Dia bersikeras mengaku tak menerima uang itu.

“Tidak benar dan tidak pernah saya terima. Sudah biasa di peradilan,” katanya.

“Anda tetap pada keterangan itu?” tanya hakim lagi. “Tetap,” jawab Miryam.

Mendengar pernyataan Miryam, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) Irene langsung meminta majelis hakim menyatakan keterangan yang diberikan oleh anggota Komisi II DPR itu merupakan keterangan palsu. Tak cuma itu, Irene juga meminta agar penahanan segera dilakukan kepada Miryam.

“Segera menetapkan saksi untuk keterangan palsu dan dilakukan penahanan,” katanya.

Menanggapi permintaan Jaksa KPK itu, Hakim Ketua mengatakan bahwa keterangan Miryam tersebut harus diperiksa lebih lanjut.

“Majelis berpendapat untuk menggunakan apa yang disampaikan tadi, memandang untuk lebih lanjut mendengar dulu saksi lain. Kepada JPU ini tidak menutup anda menggunakan langkah hukum lain, tapi di luar Pasal 174 KUHAP itu ya,” kata hakim.

Dalam persidangan, penyidik KPK menegaskan Miryam saat diperiksa di KPK mengaku menerima uang terkait e-KTP. Uang yang diterima dari pejabat Kemdagri saat itu Sugiharto, kemudian dilaporkan ke pimpinan Komisi II DPR, lalu dibagikan melalui kapoksi.

“Setelah menerima uang itu dia laporkan ke pimpinan komisi, ketua dan wakil ketua. Ketuanya Pak Chairuman yang nyuruh dia ambil uang juga Pak Chairuman,” ujar penyidik KPK Irwan Santoso saat dikonfrontasi dengan Miryam Haryani

Selain itu penyidik KPK lainnya yang juga dikonfrontasi, Novel Baswedan menyebut Miryam dalam di KPK mengaku menerima duit dari Sugiharto saat itu Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Ditjen Dukcapil Kemendagri. Selain itu Miryam mengaku berkomunikasi degngan Irman saat itu Dirjen Dukcapil Kemdagri.

“(Miryam mengaku mendapat duit dari) Sugiharto, dia juga komunikasi dengan Pak Irman melalui ketua komisi,” sebut Novel.

Dalam konfrontasi di persidangan Novel juga menyebut keterangan mantan anggota Komisi II DPR itu sangat rinci. “Bahkan rinciannya juga dia tuliskan,” tegas Novel.