Muslim Uighur Makin Ditekan, China Larang Jilbab dan Jenggot Panjang

Pelajar perempuan etnis Uyghur/Foto: AP

Beijing, Sayangi.Com– Pemerintah China mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan jilbab (burqa), dan jenggot panjang di Provinsi Xinjiang dengan alasan mencegah ekstremisme kehidupan beragama.

Provinsi Xinjiang, dengan populasi lebih dari 21 juta, berbatasan dengan Pakistan dan Kazakhstan. Sekitar 10 juta diantaranya adalah etnis Uighur yang beragama Islam.

Dikutip dari The Independent, Kamis (30/3), regulasi ini berlaku mulai Sabtu (1/4) besok. Regulasi itu mencakup 15 aturan, di mana pemerintah menyebutnya sebagai kampanye melawan ektremis beragama.

Pegawai pemerintahan di bandara, stasiun kereta dan pelayanan publik lainnya, akan bertindak dan mencegah perempuan yang menggunakan kain penutup tubuh dan wajahnya serta melaporkannya ke polisi.

Pelarangan juga berlaku bagi para pria yang sengaja membiarkan janggutnya tumbuh panjang dan menamakan anak-anaknya dengan nama bersemangat keagamaan, namun tidak disebutkan secara spesifik nama yang dimaksud.

“Orangtua harus menggunakan moral yang baik untuk mendorong anak-anaknya, ajari mereka untuk menghormati ilmu, melanjutkan budaya, pertahankan persatuan etnis dan menolak serta melawan ekstremisme,” demikian ditulis media milik negara saat mengumumkan aturan baru tersebut.

Peraturan tersebut juga memaksa penduduk setempat agar mau mendengarkan radio dan menonton televisi pemerintah, melarang pernikahan dengan menggunakan acara keagamaan, serta menggunakan label halal untuk mempengaruhi kehidupan sekuler warga lainnya.

Aturan lainnya adalah melarang anak-anak yang tidak bersekolah di sekolah reguler, serta tidak mematuhi kebijakan keluarga berencana dan sengaja menghancurkan dokumen legal.

Deretan panjang larangan yang kontroversial ini, sebagian diantaranya sudah diterapkan di beberapa tempat di Provinsi Xinjiang, namun kali ini disertai ancaman hukuman yang lebih berat bagi mereka yang melanggarnya.

Sejak mengambil alih wilayah itu pada 1949, Pemerintah China memberlakukan berbagai aturan yang menekan kehidupan beragama di Provinsi Xinjiang. Sebelum ini, Pemerintah pernah melarang muslim Uighur di Xinjiang melakukan ibadah puasa Ramadhan dengan alasan mengurangi produktivitas bekerja.

Ratusan orang tewas akibat konflik yang berkali-kali terjadi antara militan Uighur dan pemerintah China di wilayah dengan otonomi luas ini.