Fadli Zon Sebut Penangkapan Ulama Sebagai Pemberangusan Demokrasi

Wakil Ketua DPR Fadli Zon (Foto: Sayangi.com/Fahri)
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai, penangkapan ulama dan aktivis jelang Aksi 313 sebagai upaya pemberangusan demokrasi. Menurutnya, polisi tak memiliki alasan dan bukti yang kuat untuk meringkus orang yang dituduhkan sebagai pelaku makar.

Hal itu dikatakan Fadli berkaca pada penangkapan aktivis senior Sri Bintang Pamungkas jelang Aksi Bela Islam 212, Desember 2016 lalu. Menurutnya, saat ditangkap, Sri Bintang ditahan lebih empat bulan tanpa kejelasan status.

“Saya kira ini bagian dari pemberangusan demokrasi. Alasan (ditangkapnya) apa? dulu dugaan makar (saat sebelum aksi 212) juga nggak jelas,” kata Fadli di gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (31/3).

Fadli menilai, penangkapan-penangkapan yang terjadi atas tuduhan makar selama ini dianggap sebagai upaya peredaman paksa oleh penguasa atas kebebasan menyampaikan pendapat. Dia menegaskan, pasal makar,  jangan sampai digunakan untuk menakut-nakuti rakyat sehingga suara-suara kritik menjadi tidak terdengar.

Bahkan, lanjut dia, selama era reformasi pasal makar tidak pernah digunakan. Baru di era pemerintahan Joko Widodo pasal ini digunakan.

“Jadi harus dihentikan (penangkapan itu). Jangan sampai terjadi kemunduran dalam berdemokrasi hanya untuk menakut-nakuti warga untuk kepentingan politik jangka pendek,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) yang juga penggerak aksi 313, Muhammad Al-Khaththath, ditangkap polisi atas dugaan makar. Selain Al-Khaththath, ada 4 orang lainnya yang juga diamankan aparat, yakni Zainudin Arsyad, Irwansayah, Dikho Nugraha dan Andry. Penangkapan dilakukan pada Kamis (30/3) malam. Hingga kini mereka masih diperiksa di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.