Yudi Latif: Pancasila Jangan Dipertentangkan dengan Agama

Yudi Latif saat menjadi Pembicara dalam Latihan Kepemimpinan Kebangsaan yang digelar PGK, di Puncak Bogor, Jumat (31/3)
Yudi Latif

Bogor, Sayangi.com – Pengamat politik yang juga Pendiri Pancasila Rumah Kita, Yudi Latif meminta agar Pancasila tidak lagi dipertentangkan dengan agama. Sebab, Pancasila merupakan hasil ekstraksi (ringkasan atau ikhtisar) dari nilai-nilai agama.

“Indonesia adalah majemuk, beragam. Keberagaman ini saling mengenal satu sama lain, bisa saling berbagi, saling menguatkan, saling belajar. Persis seperti dijelaskan dalam kitab suci (Alquran, red), diciptakan laki-laki dan perempuan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal,” kata Yudi saat menjadi pembicara dalam acara Pelatihan Kepemimpinan Bangsa Angkatan II di Wisma DPR RI, Kopo Puncak, 31 Maret 2017.

Selain Yudi Latif, dalam Pelatihan Kepemimpinan Bangsa Angkatan II yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Pimpinan Bursah Zarnubi ini juga akan hadir beberapa narasumber. Di antaranya Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar, Sosiolog DR. Syahganda Nainggolan, DR. Arief Budimanta, DR. Hajriyanto Y Thohari (Mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014), DR. R Siti Zuhro (Pakar Politik LIPI) dan DR. M Alfan Alfian (Akbar Tandjung Institut).

Yudi yang menjadi pembicara dengan tema “Penguatan Ideologi Pancasila” ini menyebutkan bahwa dalam mengelola ruang publik bersama, masyarakat Indonesia harus memerhatikan titik temu. Titik-titik temu itu bisa didapat dari proses ekstrak beberapa pokok besar persoalan bangsa ini. Misalnya dari aspek keagamaan dan dari gagasan Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersifat universal.

Didampingi Sekjen PGK, Syamsul Qomar (kanan), Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi (kiri) memberikan penghargaan kepada Yudi Latif

“Kita harus puny titik temu, titik temu ini bisa diekstrak dari keagamaan kita, dari gagasan HAM yang sifatnya universal, dari adat istiadat, dari sosial ekonomi, tapi mengkristal dalam irisan tengah. Nilai-nilai bersaama itu kita sebut Pancasila,” jelasnya.

“Jadi Pancasila jangan dipertentangkan dengan agama, karena nilai Pancasila itu sebenarnya ekstrak dari nilai publik agama-agama. Jadi setiap agama punya moral publiknya. Moral public setiap agama mengajarkan, kalian harus bergaul dengan orang-orang yang berbeda.”

Yudi juga menegaskan bahwa menghargai perbedaan itu adalah sebuah keharusan. Apalagi saat ini sudah tidak ada lagi kehidupan yang seragam, terutama di tengah arus globalisasi saat ini.

“Kita harus terbiasa hidup di dalam kemajemukan. Oleh karena itu setiap komunitas agama pastilah harus mempersiapkan anggotanya untuk bisa hidup dalam keragaman itu,” tegasnya.

Indonesia, Rumah Besar

Dalam kesempatan ini, Yudi juga memaparkan siapa-siapa saja yang berhak menjadi bagian dari Indonesia. Ia juga menyebutkan bahwa proses terciptanya suku bangsa berasal dari kumpulan suku-suku yang menyatukan diri dalam sebuah rumah besar bernama Indonesia.

“Dari manapun kita bermula, apapun ras kita, agama kita, yang penting kalau kita merasa bertumpah darah yang sama, kita berhak menjadi bagian Indonesia. Dari manapun kita bermula, kalau kita merasa di sinilah tempat hidup kita, di sini kita makan, di sini kita menghirup oksigen, di sini kita minum, dan di sini masa depan kehidupan kita,” ujarnya.

“Maka sekarang setelah mengakui satu bangsa, yang damai, kita sebut sekarang sebagai suku bangsa. Arti kata suku, Bung Karno bilang suku itu sikil, bahasa Jawa yang artinya kaki.”

Artinya kata dia, Indonesia diibaratkan rumah besar yang hendak ditopang dengan banyak kaki. Misalnya seperti kaki Jawa, Sunda, kaki Madura, kaki Minang, kaki Bugis, kaki Papua, dan seterusnya.

“Dari semua itu, masing-masing kaki ingin dibiarkan menancap di atas bumi primordialnya. Maksudnya apa? Menjadi Indonesia tidak usah membuat kita ini kehilangan tautan dengan akar-akar primordialnya, tetapi yang penting semua kaki ini bisa menopang rumah besar yang bernama Indonesia,” jelas Yudi.

Kendati banyak kaki dan sudah menyatu dalam Indonesia, jelas dia, berbagai kultur dan tradisi yang ada di masing-masing daerah tidak kemudian dihapus atau dihilangkan ketika telah menyatu dalam satu rumah bernama Indonesia.

Oleh karenanya, Yudi mengutip pernyataan Antoropolog Amerika Clifford Geertz yang mengibratkan Indonesia seperti anggur tua di dalam botol baru (old wine in new botol). Ia menyebutkan bahwa anggur itu semakin tua semakin berharga, sehingga sangat sayang kalau dibuang.

“Artinya, nilai-nilai kearifan tradisional ini terlalu berharga kalau dibuang untuk menjadi Indonesia. Semua kearifan-kearifan ke belakang itu, tetap kita pelihara. Tapi tentu hanya warisan-warisan yang positif yang kita bawa ke dalam Indonesia.”