Angkatan II, Latihan Kepemimpinan Kebangsaan PGK Diikuti 70 Delegasi BEM-OKP

Suasana Pelatihan Kepemimpinan Kebangsaan di Puncak Bogor, Jumat (31/3)

Bogor, Sayangi.com – Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) kembali menggelar Latihan Kepemimpinan Kebangsaan. Latihan ini digelar di Wisma DPR RI, Kopo Puncak, Bogor, selama tiga hari, yakni mulai dari Jumat, 31 Maret 2017 hingga Minggu, 2 April 2017.

Pelatihan ini yang juga sekaligus merupakan Angkatan II ini diikuti oleh 70 delegasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi kemahasiswaan dan pemuda (OKP) se-Jabodetabek.

Sekitar dua bulan lalu, tepatnya pada 10 Februari 2017, PGK juga menggelar Pelatihan Kepemimpinan Kebangsaan. Latihan Kepemimpinan Kebangsaan untuk Angkatan I itu juga digelar di Wisma DPR RI, Kopo, Puncak, Bogor.

Latihan Kepemimpinan Kebangsaan Angkatan II ini juga menghadirkan beberapa tokoh sebagai narasumber. Di antaranya Pengamat Politik Yudi Latif, Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar, Sosiolog DR. Syahganda Nainggolan, DR. Arief Budimanta, DR. Mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014 Hajriyanto Y Thohari, Pakar Politik LIPI DR. R Siti Zuhro dan Peneliti pada Akbar Tandjung Institut DR. M Alfan Alfian.

Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi mengatakan, Latihan Kepemimpinan Kebangsaan ini digelar untuk mempersiapkan masa depan para aktivis dan kaum muda. Menurutnya, aktivis dan kaum muda harus menyiapkan kapasitas yang mumpuni, baik dari aspek intelektual maupun aspek kepemimpinan.

“Kita ingin dalam pelatihan PGK ini, kita menghimpun berbagai potensi bangsa untuk melatih mereka secara intelektual, berkemampuan tinggi nantinya dalam menyerap berbagai ilmu pengetahuan,” kata Bursah saat memberikan motivasi terhadap peserta pelatihan ini di Aula Wisma DPR RI, Kopo, Puncak, Bogor, Jumat (31/3).

Bursah menjelaskan bahwa pelatihan ini menghadirkan pembicara dengan titel kesarjanaan minimal doktor. Dengan begitu diharapkan para pembicara dapat memberikan pencerahan terhadap peserta pelatihan tersebut.

“Jadi ini menghadirkan doktor. Ini untuk menambah kapastias Anda sebagai calon intelektual maupun calon pemimpin, sebab kalau enggak ada basis enggak bisa nangkap narasumbernya,” jelasnya.

Oleh karenanya, agar peserta benar-benar siap, Bursah menekankan bahwa kedepan, pelatihan ini akan lebih selektif. Misalnya jika berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maka ia harus sudah melewati jenjang kedua, yakni Latihan Kader II (intermediate training).

Selain itu, Bursah berharap bahwa kedepan semua peserta yang mengikuti pelatihan ini sudah mesti menyiapkan karya tulis dalam bentuk paper.

“Kalau HMI harus intermediate baru bisa ikut sini, karena intermediate itu sdh mulai menyusun paper. Jadi yang akan datang, harus yang sudah ikut LK-2 kalau yang dari HMI. Begitu pun dengan lainnya seperti GMNI, PMII, PMKRI, sudah harus kader tingkat intermediate,” aktivis senior yang juga mantan Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR) ini.

Dalam kesempatan ini, Bursah juga menyoroti mulai merosotnya tradisi membaca di kalangan mahasiswa dan pemuda.

“Memang benar, banyak pemuda sekarang membaca enggak mau, menyimak enggak mau, ngomong enggak mau. Itu kebodohan sejati,” jelasnya.

“Kalau ini betul-betul terjadi, kita betul-betul rusak serusak-rusaknya, karena peradaban kalau enggak didukung ilmu pengetahuan akan rusak.”

Bursah mencontohkan langkah negeri jiran Malaysia bisa lepas dari ketertinggalan. Menurutnya, itu terjadi karena setiap tahun, Malaysia mengirim puluhan ribu mahasiswa dan pemudanya ke Luar Negeri, bahkan saat ini sudah mencapai ratusan ribu.