Dr. Pitoyo: Tak Ada Lagi Pemuda yang Berambisi Mempersatukan Nusantara Seperti Gajah Mada

Dr Pitoyo (kanan) saat menjadi pembicara dalam acara "Latihan Kepemimpinan Kebangsaan" yang digelar oleh PGK di Wisma DPR, Puncak, Bogor, Sabtu (1/4)

Bogor, Sayangi.com – Praktisi dan Peneliti Komunikasi Antarmanusia Dr. Pitoyo mengungkapkan peran penting kaum muda. Bahkan kata dia, semangat kaum muda sudah menggelora sejak Indonesia masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan.

Menurutnya, negeri yang kemudian dideklarasikan bernama Indonesia ini bukan negeri yang baru, namun sudah ada dan berlangsung ratusan tahun. Embrio negeri ini berupa bagian-bagian kecil yang memiliki kekuatan besar, berupa kerajaan-kerajaan dengan wilayah dan kewenangan yang diatur sendiri-sendiri.

“Banyak jiwa muda dengan semangat persatuan pada otoritas kerajaan. Para pemuda menjadi bagian dari kekuasaan, jiwanya diabdikan untuk kekuasaan raja. Raja mendayagunakan para pemuda sebagai sebuah kekuatan untuk meluaskan wilayah kuasanya. Muncullah nama-nama kerajaan yang besar seperti Sriwijaya, dan Majapahit,” kata Pitoyo saat menjadi pembicara dalam Latihan Kepemimpinan Kebangsaan yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR RI, Kopo Puncak, Bogor, Jumat (31/3).

Latihan Kepemimpinan Kebangsaan Angkatan II ini diikuti oleh 70 delegasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi kemahasiswaan dan pemuda (OKP) se-Jabodetabek. Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, mulai dari 31 Maret 2017 hingga 2 April 2017.

Selain Pitoyo, juga hadir beberapa pembicara dalam acara ini. Di antaranya Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafly Amar, Pengamat Politik Yudi Latif, Sosiolog DR. Syahganda Nainggolan, Wakil Ketua KEIN Arif Budimantan, Pakar Politik LIPI DR. R Siti Zuhro peneliti pada Akbar Tandjung Institut DR. M Alfan Alfian.

Sosok Gajah Mada

Dalam kesempatan ini, Pitoyo lalu mengungkap tentang sosok Gajah Mada, seorang pemuda yang bisa menjadi tokoh besar dalam sejarah Majapahit. Menurutnya, gerakan Gajah Mada untuk menyatukan dan memperluas wilayah tercatat dalam sejarah yang dikutip dari Kitab Pararaton.

“Gajah Mada memiliki ambisi yang besar mempersatukan kekuasaan Majapahit dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Wilayah Majapahit hampir sama dengan wilayah Indonesia, minus Papua. Tidak ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa Papua merupakan bagian kekuasaan Majapahit,” kata Pitoyo.

Ambisi Gajah Mada itu dikenal sebagai Sumpa Palapa. Ia mengucapkan Sumpah Palapa, yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Berikut Pararaton mencatat sumpahnya: “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa?

Bahkan kata Pitoyo, dengan lantang Gajah Mada menyatakan dengan tegas, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompu, Pulau Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (di Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Suwarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

“Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwana Tunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo,” jelasnya.

Semangat dan ambisi Gajah Mada ini tentu karena jiwa mudanya yang menggelora itu kata dia, sehingga dengan kewenangan dan kekuasaannya, digunakan untuk meluaskan wilayah kerajaannya. Ambisi Gajah Mada bukanlah ambisi kekuasaan untuk menumbangkan raja setelah membutikkan pengabdian dirinya, namun mengembangkan sebuah gagasan tentang luasnya pengaruh Majapahit yang kemudian dikenal dengan sebutan nusantara.

“Sebagaimana Legenda musik Regae Bob Marle, yang berpijak pada filosofi lebih baik meninggal saat melawan untuk memperoleh kebebasan daripada hidup tertawan. Gajah Mada bahkan berjanji pada diri sendiri untuk menyatukan nusantara, sebagai sebuah janji yang tidak muncul pada pemuda lainnya. Sepeninggal Gajah Mada tidak ada lagi pemuda dengan kekuasaan digenggamannya yang memiliki ambisi mempersatukan nusantara,” demikian Pitoyo.