Waspada! Ini Dampak Buruk Polusi Suara Bagi Kesehatan Anda

Jakarta, Sayangi.com – Hidup di era peradaban modern seperti saat ini membuat kita harus beradaptasi dengan kebisingan. Suara bising dari kendaraan bermotor, hingga deru mesin pabrik merupakan sumber-sumber polusi suara yang sangat mengganggu indera pendengaran. Tak hanya polusi udara dan polusi air, polusi suara pun memiliki dampak tersendiri bagi kesehatan.

Dilansir dari laman Medscape, Senin (3/4/2017), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat beberapa dampak buruk polusi suara bagi kesehatan manusia, antara lain:

Gangguan Tidur. Polusi suara atau kebisingan merupakan salah satu penyebab utama gangguan tidur. Ketika gangguan tidur menjadi kronis, akan memengaruhi suasana hati, penurunan kinerja, dan efek jangka panjang lainnya pada kesehatan.

Penyakit Kardiovaskular. Peneliti dari Karolinska Institute di Stockholm, Swedia mengungkapkan, “tak hanya menyebabkan gangguan tidur, polusi suara juga memengaruhi sistem kardiovaskular seseorang, dan kondisi ini dapat menyebabkan penyakit jantung hingga tekanan darah tinggi”, demikian seperti dilansir dari laman Everydayhealth, Senin (3/4/2017).

Gangguan Pendengaran. Institusi kesehatan Nasional Amerika Serikat (NCBI) menyebutkan, kebisingan atau polusi suara merupakan penyebab utama gangguan pendengaran. Penyebab gangguan pendengaran ini bisa disebabkan oleh paparan suara lebih dari 75-85 desibel (dB) dalam jangka panjang. Paparan suara di atas nilai tersebut menyebabkan gangguan pada kemampuan sel indera pendengaran di koklea. Suara di atas nilai ambang batas 85 desibel (dB) dianggap membahayakan, dan termasuk dalam pencemaran atau polusi suara yang menimbulkan dampak tidak baik pada kesehatan manusia. Sebagai contoh, sebuah bisikan lembut sama dengan 30 desibel, lalu lintas jalan raya yang sibuk intensitasnya seperti 80 desibel, sedangkan intensitas suara pada gergaji mesin bisa mencapai 110 dB.

Gangguan pendengaran akibat polusi suara biasanya disertai dengan suara yang terdengar aneh, perasaan menyakitkan saat mendengar suara, hingga tinnitus yang menyebabkan suara berdenging di telinga . Tinnitus ini bisa bersifat sementara, namun dapat menjadi permanen jika paparan bersifat jangka panjang. Gangguan pendengaran akibat polusi suara bisa mengganggu kemampuan untuk memahami pembicaraan, susah berkonsentrasi, kurang percaya diri, kesalahpahaman, penurunan kapasitas kerja, gangguan hubungan interpersonal, depresi, diskriminasi, serta memengaruhi hasil akademik, perilaku, hingga peluang kerja.

Gangguan Mental. Polusi suara bisa memberat gangguan mental pada orang yang berisiko memilikinya. Polusi suara berkontribusi terhadap beberapa efek samping seperti: kecemasan, stres, gugup, mual, sakit kepala, ketidakstabilan emosi, suka mendebat, perubahan suasana hati, peningkatan konflik sosial, neurosis, histeris, psikosis, bahkan impotensi.

Perilaku Agresif. Ketika polusi suara bercampur dengan adanya provokasi, kemarahan atau permusuhan, mengonsumsi minuman beralkohol, serta penggunaan narkoba, maka kebisingan juga dapat memicu perilaku agresif.

Hasil sebuah analisa penelitian di Munich, Jerman mengungkapkan, anak-anak lebih rentan mengalami berbagai efek buruk dari polusi suara. Polusi suara berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak dan sistem daya ingatnya. Kemampuan belajar anak-anak yang kerap terpapar polusi suara biasanya akan lebih lambat dari anak-anak lainnya. Bahkan, paparan suara bising selama kehamilan dapat meningkatkan risiko buruk bagi pendengaran bayi baru lahir. Selain itu, kebisingan di ruang intensif rumah sakit dapat meningkatkan kemungkinan bayi prematur mengalami gangguan tumbuh kembang. Demikian, seperti dilansir dari laman Webmd, Senin (3/4/2017).

Jika Anda atau salah satu anggota keluarga memiliki gejala gangguan pendengaran, gangguan tidur, dan kondisi-kondisi akibat polusi suara, ada baiknya untuk segera ke dokter THT untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan lebih lanjut. Konsultasikan juga cara terbaik untuk mencengah gangguan akibat polusi suara yang bisa Anda lakukan.