Risma dan Kombes Iqbal Ajak Mahasiswa Jadi Teladan Merawat Kebhinekaan

Kombes Iqbal saat berbicara di seminar yang mengusung tema toleransi umat beragama, kebhinekaan, dan keutuhan NKRI, di Fakultas Ekonomi Unair, Surabaya, Senin (3/4)/Foto: Humas Polrestabes Surabaya

Surabaya, Sayangi.Com– Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) dan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Muhammad Iqbal hadir sebagai pembicara dalam seminar nasional yang mengusung tema toleransi umat beragama, kebhinekaan, dan keutuhan NKRI, di aula Fadjar Notonegoro, Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Senin (3/4).

Selain Risma dan Kombes Iqbal, seminar yang dihadiri ratusan mahasiswa dan berlangsung di aula Fadjar Nononegoro, Kampus B Unair itu juga menampilkan Ketua PC NU Surabaya Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, Ketua Gereja Genta Kasih Indonesia Wilayah Jatim Pdt. Simon Filantropa, dan Ketua Gagas Nusantara Achmad Muas.

Kombes M Iqbal (dua dari kanan) dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (ketiga dari kanan) saat menghadiri seminar di Fakultas Ekonomi Unair, Surabaya, Senin (3/4)

Berbicara sebagai keynote speaker, Risma meyakinkan peserta seminar, terutama para mahasiswa, bahwa keragaman yang ada di Indonesia itu indah dan harus disyukuri.

“Kita punya berbagai macam bahasa, berbagai macam suku dan budaya, agama yang berbeda, itulah indahnya Indonesia,” kata Risma.

Risma berharap agar mahasiswa serta generasi muda Surabaya bisa bergandengan tangan dan menjadi contoh bagi semua masyarakat dalam mengembangkan sikap toleran, merawat kebhinekaan yang ada, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demi kejayaan bangsa.

“Kita harus memanfaatkan perbedaan yang ada sebagai kekuatan, bukan memecah belah dan mundur ke belakang,” kata Risma.

Membangun Sinergitas

Kombes Muhammad Iqbal menekankan pentingnya menumbuhkan rasa memiliki, rasa mencintai, dan kebanggaan pada bumi pertiwi sebagai tempat berlindung sampai akhir menutup mata. Kesadaran seperti itu harus dibangun sejak anak-anak, remaja, dan terus dipupuk hingga dewasa.

Jika kesadaran itu sudah terbangun, kata Iqbal, langkah selanjutnya adalah merajut rasa saling percaya antar elemen bangsa dan bagaimana membangun sinergitas dalam menjaga keutuhan NKRI.

Iqbal mencontohkan beberapa tantangan di tengah percaturan politik global yang berimbas pada situasi politik nasional. Suka tidak suka, ujarnya, Indonesia sudah terpengaruh oleh paham demokrasi liberal dimana pers dan setiap orang kini bebas mengemukakan pendapat hingga terkadang kebablasan, tak bisa membedakan lagi mana kritik dan mana yang menghujat.

Imbas globalisasi lainnya, menurut Kapolrestabes yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Humas Polda Metro Jaya ini, adalah masuknya paham radikal serta intolerasi dalam kehidupan beragama yang bisa menjadi ancaman terhadap keutuhan NKRI. Belum lagi ancaman terorisme dan serbuan narkoba yang merusak generasi muda dan peradaban.

Iqbal menyatakan bahwa cyber crime, hoax, dan berita-berita dengan konten provokatif yang marak belakangan ini, harus dilawan bersama karena bisa menjadi sumber disintegrasi bangsa.

“Kepolisian tentu akan proaktif dalam menjalankan tupoksinya yakni melindungi, melayani, mengayomi masyarakat, serta melakukan penegakan hukum. Tapi, polisi tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik jika tidak mendapat dukungan dari masyarakat,” kata Iqbal.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan generasi muda bisa bergandengan tangan, membangun sinergitas dalam mengatasi berbagai ancaman terhadap persatuan dan keutuhan NKRI.