Kombes Iqbal Ajak Mahasiswa UIN Waspadai Kejahatan Berdimensi Baru

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional "Membingkai Toleransi Umat Beragama dalam Cita- Cita Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI" di Aula Fakultas Syariah & Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu (5/4).

Surabaya, Sayangi.com – Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal mengajak mahasiswa dan civitas akademika Universitas Islam Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk mewaspadai model kejahatan berdimensi baru seperti cyber crime dan penyalahgunaan media sosial.

Hal itu disampaikan Iqbal ketika menjadi narasumber dalam Seminar Nasional “Membingkai Toleransi Umat Beragama dalam Cita- Cita Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI” di Aula Fakultas Syariah & Hukum UINSA Surabaya, Rabu (5/4).

Menurut Iqbal, dampak globalisasi telah memunculkan persaingan ketat di berbagai bidang dan timbul berbagai macam kejahatan jenis baru. Ia mencontohkan dampak media sosial yang dalam perkembangannya disalahgunakan untuk melakukan kejahatan.

“Media sosial dalam satu sisi telah memudahkan interaksi, namun jika kita tidak menggunakannya dengan bijak maka akan merusak kebhinekaan dan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Contohnya adalah fenomena berita hoax yang dan hate speach yang cenderung provokatif,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, menguatnya demokrasi yang saat ini terjadi dunia termasuk Indonesia sebenarnya dipengaruhi arus besar demokratisasi dan liberalisasi yang dikampanyekan oleh negara-negara barat. Hal itu menurut dia memiliki implikasi positif dimana terjadi proses check and balances dalam sistem demokrasi serta terjadi penguatan dalam hal peran dan partisipasi politik rakyat.

“Namun ada juga dampak negatifnya, yaitu menguatnya primordialisme dan timbulnya demokrasi yang kebablasan yang dapat memicu disintegrasi bangsa,” kata Iqbal.

Merawat Kebhinekaan

Dalam kesempatan tersebut Kombes Iqbal juga berbicara panjang lebar soal pentingnya merawat kebhinekaan. Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa yang majemuk namun tetap bersatu dalam semboyan bhineka tunggal ika. Karena itu menurutnya, mahasiswa sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa harus terlibat menjadi pelopor dalam merawat kebhinekaan tersebut. Ditegaskannya, perlu kesadaran bersama dan sinergi positif antara seluruh elemen masyarakat agar kemajemukan tetap terjaga dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh.

Menurut Iqbal, Situasi kebhinekaan di Indonesia, seperti halnya situasi politik, tak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan strategis global, regional dan lokal. Mengutip apa yang sering disampaikan Kapolri Tito Karnavian, Iqbal menekankan bahwa ancaman kebhinekaan selain datang dari faktor dinamika politik global juga bisa berasal dari kondisi internal di dalam negeri, yaitu ketimpangan di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan instabilitas. Inilah yang menurutnya menjadi tantangan utama pemerintah dari sejak Indonesia merdeka hingga sekarang.

Polri, menurut Iqbal, telah memiliki kebijakan baku dalam menjaga kebhinekaan, yaitu dengan mengedepankan konsep pencegahan terjadinya gangguan keamanan dengan porsi 75 persen, sisanya yang 25 persen adalah penegakan hukum.

Selain M Iqbal, dalam seminar yang dihadiri sekitar 450 peserta itu, turut menjadi narasumber adalah Aminurohman (Pembicara/Mantan Walikota Pasuruan), Ahmad Zainul Hamdi (Pembicara / Dosen Studi Prodi Agama UINSA), Samsul Huda (Keynote Speak/Wakil Rektor l UINSA). Selain itu hadir juga Muchid (Dekan Fak Usuludin dan Filsafat UINSA), Kolonel Sukarji (mewakili Danrem) dan Mujianto (Kejati).