Duterte Kirim Pasukan ke Sejumlah Pulau Sengketa di Laut China Selatan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte/Foto: Reuters

Manila, Sayangi.Com– Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, telah memerintahkan pasukan militer negaranya untuk menduduki sembilan pulau kecil yang disengketakan di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan

“Sepertinya semua pihak mencoba merebut pulau-pulau di sana. Jadi mari diami pulau tidak berpenghuni yang merupakan milik kita,” kata Duterte kepada wartawan dalam suatu kunjungan ke pangkalan militer Filipina di Palawan, Kamis (6/4).

Otoritas China merasa terkejut dan menyatakan keprihatinan atas perkembangan terbaru itu. Pada konferensi reguler di Beijing, Jumat (7/4), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, mengatakan bahwa institusinya sedang berbicara dengan Filipina tentang rencana penempatan itu dan berharap dapat menyelesaikan masalah ini segera.

Bulan lalu, Duterte mengatakan percuma menentang China karena negara itu telah melaksanakan pembangunan pulau buatan di Laut China Selatan selama beberapa tahun terakhir.

“Kita tidak bisa menghentikan mereka karena mereka membangun dengan keyakinan bahwa mereka memiliki tempat itu. China akan menggelar perang.”

Perubahan Sikap Duterte

Pernyataan Duterte yang mengisyaratkan ingin menentang China dalam sengketa di Laut China Selatan dinilai analis bahwa Filipina nampaknya sudah jemu dengan ekspansi maritim China di kawasan yang kaya dengan sumber mineral itu., meskipun Duterte bersahabat dengan China sejak Oktober.

Kapal Angkatan Laut Filipina, BRP Andres Bonifacio FF17, sedang bersandar di Pelabuhan Manila, 6 April 2017. Presiden Duterte telah memerintahkan serdadu Filipina untuk menduduki pulau di Laut China Selatan/Foto: EPA.

Perubahan sikap Duterte ditandai dengan rencana kunjungannya ke Thitu, sebuah pulau yang dikuasai Filipina di Laut Cina Selatan. Duterte mengutarakan keinginannya untuk secara pribadi mengerek bendera Filipina pada 12 Juni, tepat pada hari kemerdekaan.

Dia juga mengusulkan agar sejumlah barak dibangun guna menampung para serdadu Filipina.

Pernyataan Duterte mengenai China dan Laut China Selatan beberapa kali berubah. Saat berkampanye dalam pilpres, dia menegaskan tekadnya untuk memperkuat klaim Filipina atas sejumlah lokasi di Laut China Selatan. Bahkan, dengan nada berkelakar, dia mengatakan bakal menaiki jet-ski ke pulau buatan China untuk menegaskan klaim Manila.

Akan tetapi, pada Oktober lalu, Duterte mengumumkan “perpisahan” dengan Amerika Serikat. Saat itu dia mendeklarasikan bahwa pemerintahannya akan membentuk persekutuan Filipina-China serta akan menyelesaikan sengketa Laut China Selatan melalui perundingan.

China saat ini menguasai sejumlah karang di Laut China Selatan, antara lain Scarborough Shoal yang direbut dari Manila pada 2012.

Rekam jejak ketegangan di Laut China Selatan

1974: China merebut Kepulauan Paracel dari Vietnam seraya membunuh lebih dari 70 serdadu Vietnam

1988: Vietnam dan China kembali bentrok dalam memperebutkan Kepulauan Spratly. Vietnam kehilangan 60 pelaut.

Awal 2012: Angkatan Laut China dan Filipina terlibat dalam ketegangan di perairan Laut China Selatan. Kedua negara saling menuduh campur tangan atas Scarborough Shoal.

Akhir 2012: Ada klaim yang tidak bisa diverifikasi bahwa Angkatan Laut China menyabotase dua operasi eksplorasi maritim Vietnam. Hal ini meletupkan gelombang demonstrasi anti-China di Vietnam.

Januari 2013: Manila membawa China ke Mahkamah Arbitrase PBB berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut untuk menantang klaim China atas Laut China Selatan

Mei 2014: Pengeboran di dekat Kepulauan Paracel menyebabkan beberapa kapal China dan Vietnam terlibat tabrakan beruntun
Karang itu terletak 230 kilometer dari Pulau Luzon, pulau terbesar di Filipina.

Sumber: BBCIndonesia/VOA