Kombes Rudi Setiawan Ajak Mahasiswa Pro Aktif Mencegah Radikalisme

Kombes Pol Rudi Setiawan saat menyampaikan kuliah umum di Kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan, Kamis (13/4).

Bandar Lampung, Sayangi.Com– Direktur Reskrimsus Polda Lampung, Kombes Pol. Rudi Setiawan, mengajak mahasiswa untuk pro aktif mencegah berkembangnya paham radikal (radikalisme) di kampus yang berpotensi menjadi cikal bakal terjadinya perpecahan, perang saudara, bahkan aksi terorisme.

“Caranya tentu dengan memperkuat pengamalan ajaran agama masing-masing, serta bersikap toleran dan menghargai keragaman bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,” kata Rudi Setiawan, saat menyampaikan kuliah umum di Kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan, Kamis (13/4).

Menurut Rudi, sebagai agen perubahan sosial sekaligus calon pemimpin bangsa di masa depan, mahasiswa punya posisi dan peran penting untuk merawat kebhinnekaan bangsa sekaligus memperkokoh persatuan nasional. Terutama di era demokrasi yang cenderung liberal saat ini, dimana setiap orang bebas menyampaikan pendapat dan sering kali kebablasan, merasa paling benar lalu menghujat dan menghina kelompok lain.

“Adik-adik mahasiswa harus terbiasa untuk menghargai pendapat orang lain saat berdebat. Jika orang lain merasa dihargai, mereka juga akan bersikap yang sama kepada kita,” ujar Rudi.

Di hadapan seratus lebih mahasiswa dan civitas akademika ITERA yang mengikuti kuliah umum tersebut, Rudi Setiawan mengajak mahasiswa untuk menjadi teladan dalam merawat kebhinnekaan Indonesia.

“Masyarakat Lampung ini sejak dulu sudah beragam, terdiri dari banyak suku, budaya, dan agama. Kita harus dapat memanfaatkan keragaman itu sebagai kekuatan, bukan sebagai faktor pemecah belah,” kata Rudi.

Kampus, menurut Rudi, juga bisa membuat kajian strategis tentang bahaya radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI dan kemudian disosialisasikan ke masyarakat.

Saat sesi tanya jawab, Rudi Setiawan mengingatkan tentang bahaya kejahatan siber (cyber crime) yang marak belakangan ini. Termasuk diantaranya adalah berita hoax (palsu) serta informasi yang mengandung konten provokatif.

“Kalau ada informasi yang belum jelas kebenarannya sebaiknya dicek dulu, jangan langsung di-share melalui media sosial,” kata Rudi.