Prancis Gelar Pemilu Presiden, Diprediksi Berlangsung Dua Putaran

Seorang warga Prancis menggunakan hak pilihnya di Konsulat Jenderal Prancis di Manhattan, New York, Amerika Serikat/Foto: Reuters

Paris, Sayangi.Com– Prancis pada hari Minggu (23/4) ini menggelar pemilihan presiden putaran pertama, di bawah penjagaan ketat petugas keamanan.

Sekitar 50.000 anggota polisi dan 7.000 tentara dikerahkan di seluruh negeri menyusul serangan pada petugas kepolisian di Kota Paris pada Kamis (20/4) malam.

Dikutip dari Reuters, hampir 47 juta pemilih di dalam negeri dan di luar Prancis akan memilih sebelas kandidat yang bersaing untuk memperebutkan kursi presiden, dengan latar belakang ideologi politik yang mencakup aliran ultra kiri hingga ultra kanan.

Dua kandidat yang memperoleh suara terbanyak pada putaran pertama akan melaju pada putaran kedua.

Berbagai lembaga survei memprediksi, pemilu presiden Prancis akan berlangsung hingga putaran kedua karena dari sebelas calon dianggap tidak ada yang mampu meraup suara hingga 50%.

Pilpres putaran kedua yang diikuti dua calon peraih suara terbanyak akan digelar pada 7 Mei.

Lima kandidat diprediksi lebih berpeluang memenangi pilpres atau lolos ke putaran kedua, yaitu François Fillon dari kelompok konservatif, pemimpin kelompok berhaluan ultra kanan Marine Le Pen, pemimpin liberal Emmanuel Macron dan pemimpin kelompok ultra kiri Jean-Luc Mélenchon, dan Benoit Hamon dari partai Sosialis yang sedang berkuasa.

Lima kandidat yang dianggap berpeluang (dari kiri ke kanan: François Fillon, Benoît Hamon, Marine Le Pen, Emmanuel Macron dan Jean-Luc Mélenchon).

Enam kandidat lainnya, tertinggal jauh di belakang dalam berbagai jajak pendapat.

Selama kampanye, para kandidat terlibat perdebatan panas, karena mereka menawarkan visi berbeda tentang masalah Uni Eropa, isu imigrasi, ekonomi dan persoalan keidentitasan Prancis. Keamanan nasional termasuk salah satu isu yang disorot selama kampanye.

Presiden François Hollande, yang tidak populer, tidak maju kembali dalam pilpres untuk masa jabatan keduanya. Dia merupakan presiden Prancis pertama dalam sejarah modern negara itu yang tidak mencalonkan kembali untuk periode kedua.

Sumber: Reuters/BBC