Ahok Sampaikan Pledoi: Haruskah Saya Dipaksakan Sebagai Penista Agama?

Ahok di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta/Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.Com– Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Selasa (25/4) hari ini membacakan pledoi atau nota pembelaan dalam sidang lanjutan kasus penistaan agama di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dalam pledoinya, Ahok mengatakan bahwa pidatonya di Kepulauan Seribu dimaksudkan sebagai kritik terhadap politikus yang memperalat agama. Bukan untuk menebarkan kebencian atau menistakan agama.

Ahok membacakan sendiri pledoinya yang diberi judul “Tetap Melayani Walau Difitnah”. Ia antara lain mengutip tulisan pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohamad serta bercerita tentang film animasi ikan “Finding Nemo” yang ia tonton bersama anak-anak TK yang mengunjungi Balai Kota beberapa waktu lalu. Tim pengacara Ahok juga menyampaikan pledoi terpisah setebal 634 halaman.

Ahok mengutip tulisan Goenawan Mohamad berjudul “Stigma”, yang ditulis setelah Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada 19 April 2017.

“Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi kebenaran. Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian,” kata Ahok, mengutip tulisan Goenawan Mohamad.

Selanjutnya, Ahok mengutip bagian akhir tulisan itu: “Ahok kalah, ia bahkan masih bisa dijatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu. Jangan-jangan kebenaran juga kalah — di masa yang merayakan “pasca-kebenaran” kini.”

Kisah ikan Nemo

Usai mengutip tulisan Goenawan Mohamad, Ahok bercerita tentang rombongan anak-anak TK yang berkunjung ke Balai Kota dan mengajukan pertanyaan, mengapa ia mau melawan arus?

Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto sempat memperingatkan Ahok agar fokus kepada hal-hal yang relevan dengan perkara.

Ahok menjawab ya, lalu melanjutkan ceritanya: “Saya waktu itu bingung bagaimana menjawab pertanyaan anak TK. Lalu saya mengajak anak-anak itu untuk bersama menonton cuplikan Film Finding Nemo melawan arus.”

Ahok mengibaratkan dirinya seperti ikan kecil Nemo yang masuk jaring dan berenang melawan arus untuk menyelamatkan ikan-ikan besar yang terjerat jaring.

Ahok mengatakan bahwa dirinya tidak perlu menerima ucapan terima kasih dari orang yang ia bantu. Namun ia percaya Tuhan menghitung jerih payahnya dan ia yakin di dunia ini tidak ada suatu hal yang sia-sia.

Ahok mengaku bersyukur karena dalam persidangan ini ia bisa mengungkapkan kebenaran yang hakiki. Ia juga mengutip pendapat jaksa Penuntut Umum yang menurutnya telah membenarkan bahwa dirinya tidak melakukan penodaan agama dan penistaan agama.

“Haruskah saya masih dipaksakan bahwa saya seorang penista agama?” kata Ahok.

Pada sidang pembacaan tuntutan, tanggal 20 April lalu, jaksa penuntut umum menyatakan bahwa terdakwa terbukti melanggar pasal 156 KUHP tentang menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap suatu golongan, namun tidak terbukti melanggar pasal 156a tentang penistaan agama. Atas dasar itu jaksa menuntut agar hakim menjatuhkan hukuman penjara 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.

Para penentang Ahok menganggap tuntutan jaksa tersebut terlalu ringan dan merupakan rekayasa untuk membebaskan Ahok dari hukuman penjara.