Ceramah di UGM, Kapolri: Kita Harus Bersatu Menghadapi Kompetisi Antar Negara

Kapolri Tito Karnavian ketika menyampaikan ceramah dalam acara Ramah Tamah Kapolri dengan Civitas Akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Rabu (26/4/2017) siang. (Foto: Sayangi.com)

Yogyakarta, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menekankan pentingnya persatuan dalam menghadapi kompetisi antar negara. Hal itu disampaikan Tito ketika menyampaikan ceramah dalam acara Ramah Tamah Kapolri dengan Civitas Akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Rabu (26/4/2017) siang.

Menurut Tito kondisi sosial politik Indonesia akhir-akhir ini yang bergejolak akibat meruncingnya sentimen primordialisme telah membuat diskursus seputar pemikiran kebangsaan menjadi mundur. Padahal para pendiri bangsa Indonesia dalam tonggak sejarah tahun 1908, 1928 dan 1945 telah berhasil merumuskan konsep kebangsaan yang ideal dan mampu menyatukan setiap perbedaan dalam konsep Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Harusnya kita sudah meninggalkan perbedaan itu, kok sekarang muncul lagi primordialisme kesukuan maupun keagamaan. Kalau kita terus cakar-cakaran di dalam yang tertawa adalah negara tetangga,” kata Tito.

Menurut Tito, sudah saatnya Indonesia memupuk persatuan dalam rangka menghadapi persaingan global antar bangsa. Diakuinya, Indonesia saat ini dari segi kesehateraan rakyatnya berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Padahal Indonesia dulunya merupakan negera yang disegani di kawasan Asia Tenggara.

“Singapura dulu jauh di belakang kita. Mereka baru merdeka tahun 1965 dan kekuatan militernya sekarang hebat. Dulu kekuatan militer kita nomor satu di Asia Tenggara. Demikian juga Malaysia, dulu mereka banyak belajar di UGM, sekarang sebaliknya kita yang belajar ke mereka,” kata Tito.

Tito khawatir, jika bangsa Indonesia tidak beranjak dari sentimen SARA dan primordialisme akan menghambat usaha pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Jika kita ribut-ribut terus saya khawatir kita akan disalip oleh Kamboja. Bahkan jangan-jangan Timor Timur akan lebih dulu sejahtera dibanding Indonesia. Kalau itu terjadi kita semua akan menangis,” katanya.

Menurut Tito, Indonesia sebenarnya berpotensi menjadi negara maju jika berhasil menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan di atas 5 persen. Laporan Price Waterhouse Coopers (PWC) yang dirilis baru-baru ini menurut Tito telah mengindikasikan Indonesia sedang tumbuh ke arah trend positif yang akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2050.

Namun, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di atas 5 persen, menurut Tito, bukanlah hal yang mudah. Karena jika Indonesia hanya bertumpu pada alokasi APBN tentu tidak akan cukup. Karena itu partisipasi sektor swasta bermodal besar sangat penting dalam mendukung misi pertumbuhan ekonomi tersebut.

Pemerintah saat ini, menurut Tito sedang mengupayakan kolaborasi antara pemilik modal yang sebagian besar merupakan warga keturunan Tionghoa dengan pengusaha dari sektor ekonomi kerakyatan dan ekonomi syariah. Langkah ini diharapkan akan berjalan efektif dalam upaya mewujudkan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat.

“Sekarang sedang kita coba dengan melibatkan MUI dan mengusaha Tionghoa untuk menyusun skemanya. Dulu di masa orde baru gagasan seperti ini pernah dilakukan oleh Pak Harto dengan cara mengumpulkan konglomerat di Tapos dan juga di Jimbaran tapi gagal. Sekarang kita coba lagi,” kata Tito.

Pada kesempatan tersebut Kapolri mendapat kenang-kenangan lukisan Jenderal Hoegeng dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM. Jenderal Hoegeng adalah polisi teladan yang dikenal bersih dan dianggap paling sukses memimpin Polri.