Kisah Cinta Tragis Dibalik Pesona Danau Asmara Flores

Objek wisata Danau Asmara, Flores Timur (Foto: Tourism.NTT.Prov)

Larantuka, Sayangi.com – Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur memiliki beragam destinasi wisata yang menarik, salah satunya adalah Danau Asmara di Kecamatan Tanjung Bunga, Desa Waibao, Larantuka, Flores Timur. Kecantikan danau ini bak permata hijau ditengah padang tandus. Airnya tenang, dan dikelilingi pepohonan rimbun ditengah lahan tandus saat kemarau.

Danau ini bernama asli Waibelen, dari asal kata wai yang artinya ’air’ dan belen yang artinya ’besar atau luas’. Namun tahukah Anda, dibalik kecantikannya, danau ini menyimpan kisah cinta tragis bak romeo dan juliet.

Dilansir dari situs pariwisata NTT, tahun 1970 silam danau ini mulai disebut dengan nama Danau Asmara. Hal tersebut lantaran ada kisah asmara yang berakhir tragis mewarnai kecantikan danau ini.

Dikisahkan, ada sepasang sejoli itu bernama Lio dan Nela yang tengah dimabuk asmara. Namun, pemuda pemudi asal kampung Tengadei itu memutuskan mengakhiri kisah cinta mereka dengan cara bunuh diri, mereka nekat melakukannya karena romansa percintaan mereka tidak direstui orangtua kedua belah pihak. Mereka bunuh diri dengan cara menceburkan diri mereka secara bersama di tengah danau Waibelen. Dengan tangan terikat tali gebang pada masing-masing pergelangan tangan, sepasang sejoli itu mati secara mengenaskan di tepian danau Waibelen.

Tak hanya kisah cinta tragis, danau ini juga menyimpan cerita berbau mistis. Disebutkan, di tengah danau tersebut, terdapat seekor buaya, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan sebutan Nene. Menurut masyarakat sekitar, buaya-buaya tersebut merupakan jelmaan dari raja “ Sabat Tei, Tua Da Lame” penghuni ile Sodo Bera, woka ba Nara. Buaya-buaya tersebut diyakini sebagai jelmaan raja, sehingga masyarakat setempat sering memberikan sesajian.

Buaya-buaya tersebut, diyakini tidak memangsa manusia jika masyarakat setempat tidak saling bersumpah serapah. Itulah sebabnya, masyarakat setempat sangat berhati-hati bila mengeluarkan kata-kata sumpah yang bersentuhan dengan kata waja atau buaya. Mereka berkeyakinan bahwa meskipun buaya-buaya tersebut termasuk binatang pemangsa, tapi ia tidak akan memangsa manusia yang tidak punya kesalahan.

Tak hanya danau, perjalanan menuju tempat ini Anda bisa menikmati beragam pemandangan seperti kebun kacang mete, rumah-rumah warga berdinding bambu dengan atap rumbia, hingga ladang yang kering.

Lokasi danau ini hanya 45 kilometer di utara Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Namun demikian, lantaran akses jalan yang rusak perjalanan bisa memakan waktu dua jam. Untuk menuju danau, dari tepi jalan raya masih perlu menuruni jalan setapak sekitar 500 meter. Jalannya berbatu dan cukup curam. Anda juga bisa menikmati keindahannya dari jauh melalui beberapa titik di tepi jalan sekitar danau.