Polresta Barelang Tangkap Pengedar 7008 Obat Terlarang Dextro Metorpham

Kapolres Barelang AKBP Hengki memperlihatkan barang bukti dan tersangka pengedar obat terlarang jenis Dextro Metorpham.

Batam, Sayangi.com – Polresta Barelang Kota Batam menangkap Romelan (32), warga kompleks Pasar Angkasa Batam setelah kedapatan memiliki dan menjual obat terlarang jenis dextro metorpham yang sudah dilarang karena berdampak memabukkan, merusak fisik dan psikis.

Kapolresta Barelang, AKBP Hengki membenarkan penangkapan tersebut dan pihaknya telah melakukan penahanan terhadap pelaku.

“Bahwa benar tersangka telah memperjualbelikan atau mengedarkan pil Dextro Methorpan tidak memiliki Ijin edar. Anggota kami telah melakukan penangkapan pada Selasa 25 April lalu,” kata AKBP Hengki dalam keterangan kepada Sayangi.com, Minggu (30/4).

Disebutkan, penangkapan tersangka dilakukan Sat Reskrim Polsek Lubuk Baja dan Sat Resnarkoba Polresta Barelang.

Hengki menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan ekpos terkait kasus tersebut pada Kamis (27/4/2017). Penangkapan tersangka bermula dari adanya informasi masyarakat bahwa ada penjual obat yang mencurigakan di kawasan tersebut.

“Modusnya menjual obat batuk. Dextro metorpham sudah ditarik sejak 2013 karena tidak digunakan lagi. Obat tersebut pun terindikasi disalahgunakan oleh masyarakat terutama remaja,” kata Hengky.

Menurut Hengki, Pil dextro ini ketika disalahgunakan akan membuat seseorang menjadi tak terkontrol atau dikenal labil, daya ingatnya menurun, sensitif dan sangat mudah terpancing amarahnya, jalan sempoyongan hingga bicara pun kaku.

Saat ditangkap, kata dia, petugas mendapati 7.008 butir pil dextro berwarna kuning yang sudah dibagi dalam beberapa paket.

“Ada yang ditaruh dalam botol berisi 1.000 butir. Ada juga yang dikemas dalam plastik masing-masing berisi lima dan sembilan butir,” kata Hengki.

Kemungkinan besar sudah banyak obat yang dijual oleh mantan sales tersebut sehingga berpotensi merusak generasi muda.

“Pelaku mengaku sudah menjual barang tersebut sekitar satu tahun. Satu butir dijual dengan harga Rp1.000. Obat juga dijual pada kalangan pekerja,” katanya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 196 jo 197 UU No 36 thn 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, atau denda Rp500 juta rupiah.

Sementara, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan BPOM RI tahun 2013 tentang Pembatalan Izin Edar Obat yang mengandung Dektrometorfoan Sediaan Tunggal merupakan jenis obat yang memiliki efek sedatif disosiatif, dan sudah jarang digunakan untuk terapis medis.

Selain itu, menurut laporan hasil pengawasan pada fasilitas kefarmasian di bidang pelayanan, ditemukan banyak pelanggaran distribusi atau peredaran terhadap jenis obat tersebut.