Kapolri: Sebagai Aset Bangsa, PMII Berperan Penting Menjaga NKRI

Kapolri Tito Karnavian menyampaikan kuliah umum di hadapan peserta Kongres XIX PMII di Asrama Haji Palu, Sulawesi Tengah, Senin (15/5) malam.
Kapolri Tito Karnavian menyampaikan kuliah umum di hadapan peserta Kongres XIX PMII di Asrama Haji Palu, Sulawesi Tengah, Senin (15/5) malam.

Palu, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyampaikan kuliah umum di hadapan peserta Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XIX di Asrama Haji Palu, Sulawesi Tengah, Senin (15/5) malam.

Kapolri tiba di arena kongres sekitar pukul 20 Wita dan langsung disambut dengan lantunan bacaan shalawat badar oleh peserta kongres. Tito datang didampingi Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, Brigjen Pol Luki Hermawan, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi dan Senior Aktivis dari Kelompok Cipayung Bursah Zarnubi.

Dalam pemaparan yang disampaikan tanpa teks selama hampir dua jam, Tito menyampaikan bahwa kader PMII punya peran strategis, baik di kampus maupun di luar kampus untuk memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan mahasiswa Islam. Selain ituĀ PMII juga dinilai sebagai organisasi yang punya kontribusi konkret memperkokoh persatuan-kesatuan Indonesia berdasarkan empat pilar, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

“Peran konkret kader PMII adalah menangkal berkembangnya paham radikal di kampus, paham yang ingin memecah belah NKRI yang tidak sesuai dengan Pancasila,” kata Tito.

Tito mengaku menyiapkan waktu khusus untuk berbicara di hadapan peserta kongres PMII yang berasal dari seluruh Indonesia. Diakuinya, dia baru pulang dari Papua dan di Jakarta juga sedang banyak kegiatan. Namun karena menganggap kongres PMII merupakan momentum yang strategis maka ia merasa berkewajiban untuk hadir memenuhi undangan panitia.

“Jujur saya bela-belain ke sini karena tahu akan bertemu dengan salah satu unsur penting dalam elemen bangsa, yaitu pemuda dari PMII,” kata Tito disambut tepuk tangan meriah peserta kongres.

Menurut Tito, PMII merupakan kumpulan mahasiswa yang merupakan core (inti) dari pemuda. Ia menegaskan pemuda memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa, termasuk di dalamnya Pemuda dari organisasi Islam.

Bahkan, lanjut Tito, sejarah kebangsaan Indonesia menuju kemerdekaan mulai dari kebangkitan nasional, yang mengawali pergerakan adalah elemin dari Islam. Dia mencontohkan lahirnya elemen pergerakan Islam seperti Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam, hingga lahirnya organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Meski banyak dimotori oleh pemuda dan organisasi Islam, kata Tito, namun rumusan deklarasi kebangsaan pada bunyi Sumpah Pemuda 1928 dan Pancasila sama sekali tidak menonjolkan dominasi salah satu kelompok atas kelompok lainnya. Sehingga disitu lahirlah spirit persatuan dan kebangsaan.

“Itu artinya para pemuda dan founding fathers kita waktu itu sudah paham betul bahwa yang bisa menyatukan spirit kebangsaan dari pemuda Indonesia yang mejemuk adalah bhinneka tunggal ika, meskipun berbeda tapi tetap satu. Semangat itulah yang harus kita jaga,” kata Tito.

Lebih lanjut Tito berpesan agar kader PMII sebagai aset bangsa senantiasa berperan dalam dua hal, yaitu sebagai kelompok penekan yang kritis dalam artian positif (pressure group) terhadap persoalan kebangsaan dan menyiapkan kualitas diri untuk menjadi pemimpin di masa depan. Polri, menurut Tito siap bermitra dengan PMII dalam melakukan kegiatan yang positif untuk kemajuan bangsa.

Terkait pelaksanaan kongres yang akan memilih pemimpin baru, Tito berpesan agar kader PMII melakukan pemilihan secara demokratis dan bermartabat.

“Silahkan pilih pemimpin secara demokratis. Jangan ada konflik dan kekerasan. Jangan juga sampai menghalalkan segala cara. PMII sebagai aset bangsa harus kita jaga bersama-sama,” tegas Tito.