Kongres AS Bereaksi Keras Soal Memo Intervensi Trump kepada FBI

Donald Trump (kiri) dan mantan direktur FBI James Comey /Foto:Reuters

Washington, Sayangi.Com– Sejumlah anggota Kongres AS bereaksi keras terhadap pemberitaan di New York Times edisi Selasa (16/5), yang mengungkap sebuah memo yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump pernah meminta mantan direktur FBI James Comey untuk menghentikan penyelidikan terhadap terhadap mantan penasihat keamanan nasional Gedung Putih Michael Flynn.

Memo itu ditulis James Comey dalam pertemuan dengan Trump di Oval Office, setelah sang presiden memecat Flynn pada 14 Februari karena ketahuan pernah membahas sanksi AS kepada Rusia dengan duta besar Rusia. Flynn juga dianggap telah menyesatkan Wakil Presiden Mike Pence karena tidak melaporkan secara utuh  pembicaran dengan Rusia itu.

“Saya harap Anda lepas (kasus) ini,” kata Trump kepada Comey, menurut sumber yang mengetahui isi memo Comey tersebut.

New York Times melaporkan bahwa pada rapat di Ruang Oval itu, Trump mengutuk serangkaian pembocoran dokumen pemerintah ke media massa dan meminta direktur FBI menuntut para wartawan dengan dakwaan mempublikasikan rahasia negara.

Pemecatan James Comey dari jabatan direktur FBI, juga cukup menghebohkan dan menuai tudingan bahwa Presiden Trump berupaya menyembunyikan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS serta dugaan keterkaitan Moskow dengan sejumlah rekanan dan bawahan Trump.

Gedung Putih telah membantah laporan New York Times ini dengan menyatakan berita mengenai isi memo itu tidak benar atau tidak akurat menggambarkan perbincangan antara Presiden Trump dan James Comey.

Namun, kabar tentang Trump pernah meminta Comey untuk menutup penyelidikan terhadap Michael Flynn itu telah mendorong sejumlah anggota Kongres untuk membentuk investigasi independen terhadap hubungan tim kampanye Trump dengan Rusia, selain meminta Comey bersaksi di parlemen.

Komentar Anggota Kongres

Dikutip dari Reuters, berikut ini reaksi sejumlah anggota Kongres terhadap memo Comey yang mengguncangkan Washington itu.

“Saya ingin melihat memo itu segera. Saya sudah siapkan pena pertanyaan saya,” cuit anggota Kongres dari Republik, Jason Chaffetz, ketua Komisi Pengawasan dan Reformasi Pemerintahan.

Seraya menyebut isi memo itu mengagetkan dan menghalangi penegakan hukum, anggota Kongres dari Demokrat, Elijah Cummings, berkomentar: “Kita harus segera mendengarkan testimoni dari Direktur Comey, secara terbuka.”

“Saya tidak mau baca memo. Saya ingin mendengarnya dari dia (Comey),” kata Senator Republik Lindsey Graham dalam wawancara MSNBC.

“Memo itu bukti kuat mengenai telah terjadi penghalang-halangan proses hukum dan pastinya menuntut dan memicu penyelidikan segera oleh penuntut khusus yang independen,” kata Senator Demokrat Richard Blumenthal.

“Negara harus menjawab. Jelas sudah mantan Direktur FBI Comey harus bersaksi di Kongres,” cuit anggota Kongres dari Republik, Frank LoBiondo.

“Saya kaget dan terperanjat oleh perkembangan baru ini dan akan membahasnya dengan Ketua Grassley (Chuck Grassley, ketua Komisi Kehakiman Senat), dan menunggu hal itu terjadi. Komisi Kehakiman adalah tempat yang layak untuk menggelar dengar pendapat dan mendapatkan dasar seterang-terangnya atas apa yang sudah diucapkan dan oleh siapa,” kata Senator Demokrat Dianne Feinstein.

“Kabar itu membersitkan pertanyaan serius mengenai apakah presiden menghormati independensi FBI dan kewenangan lembaga penegak hukum. Penting sekali bagi Kongres mendapatkan memo ini dan meminta penjelasan dari mantan Direktur Comey. Rakyat Amerika berhak mendapatkan jawaban atas kelakuan Presiden Trump,” kata Senator Demokrat Bob Casey.

Michael Flynn /Foto: Reuters

Siapa Michael Flynn?

Dikutip dari laman BBC, Flynn adalah seorang veteran Angkatan Darat berpangkat letnan jenderal. Setelah Trump dilantik menjadi presiden pada Januari 2017, Flynn diangkat sebagai penasihat keamanan nasional.

Namun, pada Desember 2016, Flynn diketahui berbincang dengan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergei Kislyak, melalui telepon. Dalam perbincangan itu, Flynn dituding mendiskusikan tentang sanksi AS terhadap Rusia.

Jika tuduhan itu benar, maka Flynn telah melakukan tindakan melanggar hukum dalam melakukan diplomasi AS karena ia masih warga biasa saat kontak dilakukan. Bahkan, Trump belum dilantik secara sah menjadi presiden menggantikan Barack Obama, meski hasil pilpres menyatakan Trump sebagai pemenang.

Dalam surat pengunduran dirinya, Flynn mengatakan dia “secara tak terhindarkan memberi tahu wakil presiden terpilih dan lainnya dengan informasi tidak lengkap terkait percakapan dengan duta besar Rusia melalui telepon.”