Kabinet Jepang Setujui RUU Kaisar Boleh Turun Tahta

Kaisar Jepang Akihito dan Permaisuri Michiko

Tokyo, Sayangi.Com– Kabinet Jepang, Jumat (19/5), menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan Kaisar Akihito mengundurkan diri dari tahtanya.

Kaisar Akihito, 83 tahun, pernah menjalani operasi jantung dan pengobatan kanker prostat. Dalam pidato umum yang langka tahun lalu, dia mengatakan rasa khawatir usia mungkin akan menyulitkannya untuk memenuhi tugasnya. Masalahnya, pelepasan tahta kaisar tidak mungkin dilakukan berdasarkan hukum saat ini.

Terakhir kali kaisar Jepang mengundurkan diri terjadi pada tahun 1817. Persetujuan kabinet terhadap RUU ini membuka jalan bagi pelepasan tahta pertama oleh seorang kaisar dalam waktu hampir dua abad.

Dikutip dari Reuters, RUU tersebut akan segera dikirim ke parlemen. RUU itu hanya mengatur izin pengunduran diri terhadap kaisar saat ini, tanpa ketentuan untuk kaisar masa depan.

Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga, mengatakan kepada wartawan, Pemerintah berharap yang terbaik untuk kelancaran perundang-undangan.

Sampai saat ini belum ada konfirmasi kapan Kaisar Akihito akan mengundurkan diri. Kaisar sendiri tidak pernah secara langsung mengatakan akan turun tahta, karena tabu baginya untuk menyampaikan pernyataan politik seperti itu.

Meski tidak ada konfirmasi tentang rencana pasti pengunduran diri kaisar, sejumlah media di Jepang menyebut kemungkinan hal itu akan terjadi pada akhir 2018, dan Putra Mahkota Naruhito yang kini berusia 56 tahun dapat meneruskan tahta pada 1 Januari 2019.

Jika Kaisar Akihito turun tahta, hanya ada empat pewaris dalam garis suksesi Tahta Seruni. Urutan pertama adalah Putra Mahkota Pangeran Naruhito, urutan kedua Pangeran Fumihito (adik Naruhito), urutan ketiga adalah Pangeran Hisahito (anak Pangeran Fumihito) yang masih berusia 10 tahun, dan urutan keempat adalah Pangeran Hisahito (adik kaisar Akihito).

Putra mahkota Naruhito hanya memiliki satu anak perempuan remaja, Aiko, yang sesuai aturan tidak dapat mewarisi tahta.

Pada tahun 2005, karena cemas melihat Putra Mahkota dan adiknya juga tidak memiliki putra lelaki, Perdana Menteri Jepang saat itu Junichiro Koizumi bersiap untuk mengubah UU tahun 1947 yang membatasi suksesi keturunan laki-laki dari seorang kaisar. Namun proposal tersebut ditangguhkan setelah Hisahito dilahirkan pada tahun 2006.