Pidato Donald Trump di Riyadh Berupaya Rangkul Negara Muslim

Presiden Donald Trump menyampaikan pidato di KTT Arab Islam Amerika, di King Abdulaziz Conference Center, Minggu (21/5) malam, di Riyadh, Arab Saudi /Foto: AP

Riyadh, Sayangi.Com– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan kepada negara-negara Islam untuk memimpin upaya memerangi radakalisme dan terorisme.

Trump menyampaikan seruan itu saat berpidato di KTT Negara-negara Arab, Islam, dan Amerika (Arab Islamic American Summit) di Riyadh, Arab Saudi, (21/05) malam.

“Usir mereka dari muka bumi ini,” kata Trump, saat merujuk kelompok ekstrem.

Trump mengatakan, negara-negara Timur Tengah tidak dapat menunggu Amerika Serikat untuk memerangi kelompok-kelompok ekstrem.

“Ini adalah pertempuran antara penjahat barbar yang berusaha membinasakan kehidupan manusia, dan orang-orang layak dari semua agama yang berusaha melindunginya,” kata Trump.

Rangkul Negara Muslim

Semasa kampanye Pilpres AS, retorika Donald Trump dinilai memicu Islamophobia, seperti saat ia menyerukan larangan Muslim masuk Amerika dan menyatakan bahwa Islam membenci Amerika. Setelah terpilih jadi Presiden, perintah eksekutif Trump berisi larangan masuk ke AS bagi pendatang dari enam negara berpenduduk Muslim, mendapat tentangan keras di dalam negeri AS karena dinilai diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu.

Namun dalam pidato di Riyadh, Trump terlihat berupaya merangkul para kepala negara dan perwakilan dari 55 negara Muslim yang hadir di konferensi ini.

“Saya mewakili rakyat Amerika, menyampaikan pesan persahabatan dan harapan. Ini alasan saya memilih mengunjungi (Arab Saudi sebagai) pusat dunia Muslim, yang menjadi rumah bagi dua tempat tersuci dalam agama Islam,” ujar Trump.

Trump menekankan pentingnya kerja sama melawan terorisme yang menurutnya juga merupakan musuh Islam. Ia menyerukan para pemimpin negara Muslim untuk “memburu (teroris) keluar dari tempat ibadah Anda, keluar dari masyarakat Anda, keluar dari tanah suci Anda dan keluar dari bumi ini.”

Seperti pendahulunya Presiden Obama, Trump juga menegaskan tidak sedang berperang melawan Islam.

“Ini bukan pertempuran antara agama yang berbeda, sekte yang berbeda atau peradaban yang berbeda. Ini pertempuran antara penjahat barbar yang berusaha melenyapkan kehidupan manusia dan orang-orang baik, atas nama semua agama. Ini adalah pertempuran antara yang baik dan yang jahat,” kata Trump.

Pengamat menilai kunjungan Trump ini mempererat hubungan dengan Arab Saudi dan sekutu negara teluk lainnya yang mendingin di bawah pemerintahan Obama.

Saat itu Arab Saudi gerah dengan politik luar negeri Obama yang menekankan penegakan HAM dan demokrasi, serta sikap Presiden Obama yang dipandang lunak menghadapi Iran, termasuk dengan ditandatanganinya kesepakatan nuklir Teheran dengan Barat. Presiden Obama juga dipandang terlalu hati-hati dalam menghadapi Presiden Bashar Al-Assad sehingga membiarkan konflik berlarut di Suriah. Iran dan Suriah merupakan merupakan kekuatan Syiah dan musuh Saudi di kawasan.

Simon Henderson dari Washington Institute for Near East Policy mengatakan, “Arab Saudi senang sekali dengan kunjungan ini. Mereka sangat tergantung pada hubungan keamanan yang kuat dengan AS. Mereka sangat kecewa dengan mantan Presiden AS Barack Obama yang menurut mereka lebih condong kepada Iran daripada Arab Saudi.”

Dalam kunjungan ini, Presiden Trump juga menandatangani perjanjian jual beli senjata senilai 110 miliar dolar dengan pemerintah Saudi. Baik AS maupun Saudi menegaskan perjanjian senjata yang dinegosiasi oleh menantu Presiden Trump Jared Kushner ini ditujukan untuk membendung pemerintahan Hassan Rouhani, yang pada hari yang sama terpilih kembali sebagai presiden Iran untuk masa jabatan kedua.

Dari Riyadh Presiden Trump akan menuju Israel, sekutu terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah. Lawatan ini berlangsung di tengah tekanan politik dalam negeri, di mana Presiden Trump dikritik karena memecat direktur badan penyelidik federal FBI James Comey yang sedang menyelidiki potensi kolusi tim sukses Trump dengan Rusia saat pilpres AS lalu.

Sumber: BBC/VOAIndonesia