Kapolri: Pelaku Bom Kampung Melayu Kelompok JAD, Network Bahrum Naim ISIS 

Kapolri Tito Karnavian (kedua dari kiri) saat menyampaikan keterangan pers di aula RS Polri Kramat jati, Jakarta Timur, Jumat (26/5) malam /Foto: sayangi.com

Jakarta, Sayangi.Com– Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, berdasarkan hasil tes DNA dengan pembanding keluarga sedarah, dua orang pelaku bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu pada Rabu malam adalah Ikhwan Nurul Salam dan Akhmad Sukri, yang merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Menurut Tito, JAD masuk dalam jaringan teror Bandung Raya, berasal dari kelompok yang sama dengan pelaku penyerangan taman pendawa, serta kelompok teror yang ditangkap di waduk jati luhur pada Desember 2015. Kelompok teror ini terindikasi kuat terafiliasi dengan Bahrun Naim yang bergabung dengan ISIS di Syria.

“Kesekian kalinya network ISIS, Bahrun Naim, melakukan aksi di Indonesia,” kata Kapolri, dalam jumpa pers, di aula Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (26/50 malam.

Kapolri menggelar jumpa pers usai menjenguk korban ledakan bom yang dirawat di rumah sakit tersebut, setelah sebelumnya juga meninjau TKP ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Saat jumpa pers, Kapolri didampingi oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. M. Iriawan dan Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto.

Bom Tergolong High Explosive

Kapolri menyatakan rasa duka cita dan mengutuk kejadian serangan teror di Kampung Melayu tersebut, yang menyebabkan gugurnya 3 putra terbaik Polri yang tengah bertugas, serta beberapa warga sipil dengan berbagai profesi seperti mahasiswi dan penjual voucher pulsa telpon.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium forensik, menurut Tito, diketahui bahwa pelaku menggunakan bahan peledak TATP (Tri Aceton Tri Peroxide), yang juga dikenal dengan mother of satan, yang termasuk dalam katagori high explosive, dan bersifat sangat sensitif serta tidak stabil atau mudah meledak.

Kapolri menjelaskan, pelaku teror ini terus mengembangkan metode serangan dan bahan peledaknya, dengan menggunakan secondary device yang meledak beberapa saat setelah ledakan pertama terjadi. Ledakan pertama menyebabkan orang-orang berkumpul untuk melihat kejadian, dan saat itulah bom kedua meledak.

Menurut Kapolri, Densus 88 telah mengenal kelompok pelaku teror bom ini, serta telah mengamankan 3 orang yang diduga mengetahui perencanaan maupun diduga terlibat langsung dalam serangan teror ini.

Kapolri menambahkan, kelompok pelaku teror Kampung Melayu berasal dari kelompok yang sama dengan pelaku yang menyerang anggota Polri di Polres Banyumas, yang menerapkan cara bergerak rahasia dan sistem sel yang tidak saling mengenal satu dengan lainnya.

Kelompok Tauhid Wal Jihad di Indonesia dipimpin oleh Oman Abdurrahman yang menganut ideologi Takhfiri, yang menganut satu satunya doktrin yang merasa paling benar. Bagi yang tidak sepaham dengan mereka adalah kafir, termasuk TNI dan POLRI yang karena tugasnya melindungi dan mengayomi masyarakat harus menegakkan hukum terhadap para pelaku teror, maka Polri diberi label kafir yang harus dibunuh.

Kapolri mengimbau masyarakat tetap tenang, dan bersama-sama menghadapi terorisme, dengan meningkatkan kerjasama antar instansi, yang melibatkan TNI, alim ulama dan masyarakat lainnya untuk menjaga situasi agar tetap sejuk dan damai, seiring masuknya bulan Ramadhan.

Kapolri juga mendoakan agar para prajurit Polri yang gugur dalam peristiwa ini dapat beristirahat dengan tenang, diampuni segala khilafnya dan diterima di sisi Allah SWT. Bagi korban yang menderita luka luka, semoga segera sembuh dan bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala.