Bom Jalanan Meledak Di Kenya,Korban Polisi Tambah Dua

Foto CFM news
Foto CFM news

Mombasa, Kenya, Sayangi.com– Pasca Bom Melayu yang menelan korban Polisi, ledakan bom jalanan di Kenya juga menelan korban dua personel polisi.

Ledakan bom yang memakan 2 korban polisi tersebut, terjadi di dekat perbatasan dengan Somalia pada Kamis (25/5)waktu setempat, kata polisi setempat.

Peristiwa itu menambah korban tewas akibat bom jalanan dari pihak keamanan (kepolisian) Kenya menjadi 11 orang selama dua hari terakhir.

Setelah sebelumnya delapan petugas polisi Kenya tewas ketika kendaraan mereka melewati bom rakitan dalam dua insiden terpisah di dekat perbatasan dengan Somalia hari Rabu (24/5) waktu setempat.

Serangkaian aksi bom yang sebagian besar diklaim oleh kelompok gerilyawan Somalia, menimbulkan kesulitan yang dihadapi pemerintah Kenya dalam upaya mereka mengamankan negara.

Terutama  menjelang pemilihan nasional yang dijadwalkan akan berlangsung pada 8 Agustus mendatang.

Komisaris Kepolisian Daerah Garissa James Kianda, melalui telepon kepada Reuters mengatakan”Petugas kami sedang melakukan peningkatan operasi sekitar jam 10 pagi dan dalam perjalananpatroli.

Tiba tiba kendaraan mereka terkena IED (alat pemicu ledakan) di sekitar wilayah Liboi, dekat lokasi serangan kemarin. Daerah Liboi berada di sebelah timur laut negara itu dekat perbatasan dengan Somalia.

“Kami kehilangan dua petugas dan dua lainnya terluka. Ini adalah perbuatan kelompok al-Shabaab, dan karena itulah kami meningkatkan operasi saat ini di seluruh daerah tesebut,” tegas James Kianda.

Sementara itu, penyerang dari kelompok al Shabaab Somalia telah mengaku bertanggung jawab atas dua ledakan bom jalanan sebelumnya pada Rabu (24/5) waktu setempat.

Saat bom pertama meledak telah memakan  korban delapan petugas kepolisian. Korban ke sembilan meninggal semalam.

Hingga berita ini diturunkan kelompok ini tidak dapat dimintai komentarnya segera terkait serangan pada Kamis itu.

Kelompok al Shabaab, yang telah melancarkan sejumlah serangan  terhadap warga sipil di Kenya, mengatakan bahwa pertempuran ini mereka lakukan karena Kenya telah mengirim pasukannya ke Somalia pada 2011.

Pasca 2011 Kenya mengirimkan pasukan  PBB ke Somalia serangkaian serangan dan penculikan terjadi di Kenya.

Beberapa bulan terakhir  Wilayah Garissa, tempat kejadian Bom Liboi meledak, telah menghadapi beberapa serangan dari kelompok al Shabaab.

Termasuk serangan pada sebuah universitas pada 2015 yang telah menewaskan 148 orang.

Tentara Kenya tergabung sebagai bagian dari 22.000 pasukan penjaga perdamaian yang bertujuan untuk memperkuat pemerintah Somalia dukungan PBB.

Kelompok al Shabaab, tengah berusaha untuk menggulingkan pemerintah Somalia dan memaksakan penerapan hukum syariah garis keras.

Kelompok ini mengatakan bahwa akan terus menyerang Kenya hingga Nairobi menarik tentaranya dari sebuah misi penjaga perdamaian Uni Afrika di Somalia.

Kepolisian pada Selasa (23/5) waktu setempat mengatakan Kenya dalam keadaan waspada terhadap peningkatan kekerasan, setelah petempur al Shabaab dalam kelompok kecil diketahui berpindah ke Kenya.

Sumber: nydailynews.com