Presiden AS Donald Trump Mengakhiri Lawatan Perdananya

Foto South China Morning Post
Foto South China Morning Post

Sigonella, Italia Sayangi.com – Presiden AS Donald Trump telah mengakhiri perjalanannya selama sembilan hari di luar negeri secara dramatis, menangani tentara AS dalam sebuah demonstrasi bergaya kampanye dan mengumumkan perjalanan tersebut sebagai “home run“.

Selama 9 hari lawatan, Trump meluangkan waktu mengunjungi Timur Tengah, seperti dilaporkan Reuters disebut banyak pihak telah memanjakan para pemimpin di kawasan itu walau punya catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) .

Sementara itu, Trump menekankan kepada sekutu tradisonalnya di Eropa agar mengeluarkan dana lebih banyak untuk pertahanan mereka.

Di konferensi tingkat tinggi Kelompok Tujuh (G7) di kota resor Taormina di Pulau Sicilia, Italia, Trump menolak permohonan enam sekutunya guna terus memberikan dukungan bagi Perjanjian Perubuahan Iklim Paris pada 2015. Perjanjian Perubuahan Iklim Paris merupakan kesepakatan yang mengatur setiap negara menurunkan emisi karbon.

Trump berkilah bahwa masih perlu waktu lagi untuk mengambil keputusan tersebut. Padahal, AS termasuk pembuat emisi karbondioksida (zat asam arang) yang relatif besar dari kegiatan industri.

Di sebuah hangar pangkalan Angkatan Laut AS di Sigonella, yang juga berada di Sicilia, Trump diperkenalkan oleh istrinya Melania. Sikap Melania yang telah mencengangkan publik selama lawatan itu, karena dua kali istrinya menepis ketika sang suami mencoba menarik tangannya.

“Suamiku bekerja sangat keras dalam lawatan ini, dan saya sangat bangga dengan dia,” ujar Melania, yang selisih usianya 24 tahun lebih muda dari Trump.

Foto-Associated-Press.
Foto-Associated-Press.

Trump, yang menumpang helikopter Marine One mendarat dari Taormina menuju pesawat Air Force One, keluar dari pertemuan dua hari dengan menyatakan, lawatannya berjalan sukses.

Ia menyatakan telah membantu menekankan lagi kerja sama internasional dalam memerangi militan, sebuah ancaman yang katanya ditandai oleh bom bunuh diri di Manchester, Inggris, dan pembunuhan pengikut Kristen Koptik di Mesir.

Trump menggunakan perjalanannya untuk mendorong kebijakan “Amerika pertama”, mempromosikan penjualan senjata senilai $ US110 miliar ($ 148 miliar) ke Arab Saudi dan memberi tahu sekutu G7 bahwa Amerika Serikat membutuhkan lapangan bermain yang lebih luas dalam perdagangan.

Bahasa tubuhnya dalam perjalanan tersebut menunjukkan tingkah lakunya yang tipikal, didramatisasi oleh tuntutannya bahwa sekutu NATO membayar lebih untuk pembelaan mereka dan penolakannya untuk secara eksplisit menyatakan bahwa Amerika Serikat mendukung Pasal 5 piagam aliansi.

Pasal tersebut yang mengharuskan setiap anggota untuk mendukung Pertahanan satu sama lain. Dia mendorong selain perdana menteri Montenegro untuk menggantikan poster foto keluarga di seluruh Eropa. Di Sigonella, Mr Trump mengatakan bahwa seruannya kepada sekutu NATO untuk membayar lebih banyak bekerja.

“Uang mulai mengalir masuk,” katanya.” Ini adil bagi Amerika Serikat Kami berada di belakang NATO sepanjang jalan, tapi kami ingin diperlakukan dengan adil,ungkapnya”

Berbeda dengan kebiasaan para Presiden AS, Trump justru tidak mengadakan jumpa pers di akhir lawatannya. Ada spekulasi di kalangan pers bahwa presiden AS menghindari aksi ini guna menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang sejumlah masalah yang segera dihadapi sekembalinya ke Washington DC, Sabtu malam (27/5) waktu setempat.

Di dalam negeri, Trump dilanda kasus pemberhentian mantan Direktur Badan Investigasi Federal (FBI) James Comey pada 9 Mei 2017. Kasus tersebut telah menimbulkan kekhawatiran mengenai apakah mereka berusaha mendiamkan penyelidikan federal atas hubungan kampanyenya dengan Rusia pada 2016.