Cak Imin Sebut Cara Efektif Membumikan Pancasila Adalah dengan Kesenian

Muhaimin Iskandar (Foto: Sayangi.com)

Jakarta,  Sayangi.com – Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar mengatakan, dalam dunia yang serba digital, mobile dan virtual ini, hanya butuh lebih banyak kreativitas dan kemauan kuat untuk membumikan Pancasila.

“Membumikan artinya membuatnya nyata, membuatnya dekat dengan hidup sehari-hari dari orang-orang biasa,” kata Muhaimin di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Rabu (31/5).

Untuk itu, Cak Imin,  sapaan akrabnya, menawarkan kesenian dan kebudayaan sebagai jalannya. Jalan kultural, bukan lagi tekstual. Jalan dialog, bukan monolog.

“Mengapa saya memilih jalan kesenian? Karena seni sebagai karya, mampu menyentuh bukan hanya pikiran tapi juga hati,” ujarnya.

Seniman lanjut Cak Imin, bersuara nyaring saat kata-kata kehabisan tenaga untuk menjelaskan sesuatu. Dia mengakui, persepsi tentang apa yang indah dan apa yang tidak, mungkin berbeda. Namun menurutnya, semua manusia mencintai keindahan. Dan seniman, dengan gayanya sendiri-sendiri, adalah produsen keindahan, dengan alam raya sebagai kanvasnya.

“Maka saya meminta kepada para seniman, tulislah lebih banyak lagu tentang kemanusiaan, lebih banyak drama tentang persatuan, lebih banyak film tentang persaudaraan dalam perbedaan, lebih banyak novel tentang keadilan dan ketuhanan, lebih banyak tarian yang menggambarkan kegembiraan hidup bersama. Bikin lebih banyak Video pendek tentang hal-hal baik dari Pancasila, bikin status facebook dan twitter yang berisikan kata-kata teladan persaudaraan. Isi instagram kita dengan gambar-gambar indah tentang negeri ini dan tentang rakyatnya,” bebernya.

Lalu, lanjutnya, diviralkan. Biar anak-anak muda itu menontonnya, membaca, menyanyikannya, mengunduhnya, membicarakannya, mendebatnya, me ‘like’ nya atau ‘dislike’nya, meretweet, mengomentari, dan pada akhirnya meneladaninya, menirunya, menyimpannya dalam gadget dan sesekali membukanya. Untuk dinikmati sendiri atau bersama teman-temannya.

“Karena seni menyentuh hati, maka ia akan tinggal di hati,  itu yang kita inginkan dari Pancasila, ia berumah di hati kita dan di hati anak-anak kita,” pungkasnya.