Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa Berjanji Lebih Efisisen Mengatur Regulasi

Foto bersama antara antara komite BPH Migas yang lama dan baru serta anggota Komisi VII DPR di Kantor BPH Migas Jakarta, Rabu (31/5) sore /Foto: Tri Setyo

Jakarta, Sayangi.com– Badan Pengawas Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengadakan acara pisah-sambut pimpinan dan anggota komite baru. Acara yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama itu diselenggarakan di kantor BPH migas di kawasan Jl. Tendean, Jakarta, Rabu (31/5) sore.

Dalam sambutannya, Kepala BPH Migas yang baru Fanshurullah Asa, menyampaikan komitmen bahwa di bawah kepemimpinannya BPH migas akan meningkatkan sinergi dengan pemerintah dan mitranya di legislatif.

“Kita ingin BPH Migas dapat bersinergi dengan pemerintah serta DPR RI, yakni Komisi VII DPR dan Komisi yang memiliki hubungan dengan minyak dan gas,” ujar Fanshurullah.

Fanshurullah juga menekankan, BPH migas kedepannya dapat lebih efisien dalam mengatur regulasi Migas di Indonesia. Karena ia yakin mitra BPH migas di legislatif akan mendukung tiap langkah yang diambil BPH migas.

Fanshurullah mengatakan, Menteri ESDM dan Wakil Menteri ESDM akan mengunjungi Kantor BPH Migas Kamis (1/6) besok. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa peran BPH Migas sangat penting.

Sementara itu, ketua BPH migas periode sebelumnya, Andy Noorsaman Someng, berpesan agar seluruh anggota komite BPH migas yang baru dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Selain itu, ia mengatakan, banyak kenangan yang ia dapat selama menjadi kepala BPH Migas.

“Banyak kenangan selama saya jadi kepala BPH Migas, dan kenangan itu semuanya menyenangkan,” tutur Andy.

Di tempat yang sama, anggota Komisi VII dari Fraksi PAN Andi Yuliani Paris mengatakan, tidak salah kalau Komisi VII merekomendasikan Fanshurullah sebagai kepala BPH migas. Karena, menurutnya, Fanshurullah juga duduk sebagai anggota komite BPH Migas periode lalu sehingga memiliki pengalaman dalam mengatur regulasi minyak dan gas bumi.

“Pak Ifan (Fanshurullah) memiliki kriteria yang mumpuni sebagai kepala di BPH Migas, punya pengalaman, punya integritas, sudah memenuhi kriteria,” jelasnya.

Menurut Andi Yuliani Paris, banyak tugas yang harus diemban Fanshurullah dalam tugas barunya. Apalagi, saat ini DPR tengah merancang Undang-Undang BPH Migas.

“Banyak amanat kepada beliau, karena DPR juga sedang merancang UU BPH Migas,” ujarnya.

Wacana Pembubaran BPH Migas

Pembubaran Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) kembali mencuat. Hal tersebut diketahui saat DPR merencanakan untuk merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 mengenai Minyak dan Gas Bumi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa ‚Äémengatakan, ia tidak kaget dengan wacana pembubaran BPH Migas. Pasalnya, wacana pembubaran tersebut sudah beberapa kali santer terdengar.

“Ini bukan yang pertama kali (wacana pembubaran tersebut), dan terdengar lagi pada akhir April Saat rumusan revisi UU Migas dari komisi VII DPR diajukan ke Baleg,” ujar Fanshurullah, di kantor BPH Migas, Jakarta, Rabu (31/5).

Saat ini, Fanshurullah mengaku belum khawatir dengan pembubaran lembaganya itu. Karena menurutnya, pengesahan revisi UU Migas masih membutuhkan proses yang sangat panjang.

“Jadi urutannya, usai masuk Baleg nanti dibentuk Panja revisi UU Migas dan akan dikembalikan lagi ke Komisi VII (DPR RI) untuk penyempurnaan baru dibawa ke paripurna. Jadi kalau kita lihat tahapan, wacana pembubaran masih jauh,” tuturnya.

Apalagi, lanjut Fanshurullah, keberadaan BPH Migas telah diatur dalam putusan konstitusi. Ini dapat dilihat dalam keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 65 Tahun 2012 tentang pembentukan BPH Migas.

“Jadi kan kita ada dalam putusan MK dan kalau MK sudah memutuskan, tidak ada lagi lembaga hukum yang bisa menggagalkan, mencabut peninjauan kembali,” katanya.

Lebih jauh Fanshurullah mengatakan, seharusnya dalam revisi UU Migas seharusnya BPH migas diberi kewenangan lebih. Pasalnya, kewenangan BPH Migas saat ini dirasa masih sangat terbatas.

“Ke depan mestinya BPH migas mengatur dan mengawasi hilir Migas, yaitu mulai dari pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan niaga. Ini sangat penting bagi masyarakat, sedangkan saat ini ada dan tiadanya BPH Migas masih setengah hati,”¬†kata Fanshurullah.