Tindakan Persekusi Makin Marak di Indonesia, Dokter Hingga Remaja Jadi Korban

Kasus persekusi bahkan kembali terjadi, kali ini dialami oleh seorang remaja berusia 15 tahun dengan inisial PMA di Cipinang Muara, Jakarta Timur (Jaktim). (Foto: Twitter)

Jakarta, Sayangi.com – Kasus tindakan persekusi makin marak terjadi di Indonesia. Beberapa tindakan persekusi telah dialami segelintir orang yang biasanya aktif di media sosial. Kasus persekusi yang banyak terjadi ditengarai karena status seseorang di akun media sosialnya telah memicu kemarahan organisasi terntentu.

Persekusi sendiri merupakan pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga secara sistematis dan luas. Tindakan persekusi dapat berupa intimidasi, teror, hingga pemidanaan kepada seseorang bahkan hingga ke ranah kepolisian.

Menurut Koalisi Anti-Persekusi, tindakan semacam itu telah mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi di Indonesia seiring dengan meningkatnya suhu politik dan terpolarisasinya warga.

“Istilah Persekusi ini masih awam. Persekusi itu bukan main hakim sendiri tapi tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan secara sewenang-wenang secara sistematis atau luas,” ucap Damar Juniarti dari SAFEnet yang juga mewakili Koalisi Anti-Persekusi di kantor YLBHI Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).

Menurut Damar, tindakan persekusi berupa intimidasi ini mengancam demokrasi karena sekelompok orang mengambil alih negara untuk menetapkan seorang bersalah dan melakukan penghukuman tanpa proses hukum. ‎”Kami monitor data terawal Persekusi itu 27 Januari 2017, dan terakhir 31 Mei 2017. Saat ini sudah ada 59 orang jadi target. Statistik Persekusi setiap bulannya selalu naik. Ini betul-betul harus diwaspadai kalau tidak dihentikan bisa lebih luas lagi,” tukasnya.

Tindakan persekusi baru-baru ini dialami oleh seorang dokter asal Solok, Sumatera Barat bernama Fiera Lovita. Perempuan dengan tiga anak ini mengaku menjadi korban intimidasi sebuah ormas dan kelompok lainnya di Solok. Tindakan persekusi itu terjadi dipicu oleh pernyataan bernada miring terhadap pimpinan FPI, Rizieq Shihab di akun facebooknya.

Setelah sempat bungkam, dr Fiera Lovita mulai buka suara terkait apa yang menimpanya di akun media sosialnya. Ia menuturkan telah mengalami intimidasi, bahkan teror oleh sekelompok ormas. Ia bahkan harus diamankan ke Jakarta lantaran tindakan persekusi terhadapnya di Solok makin membuat kehidupannya terancam.

Dr. Fiera Lovita muncul di YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, didampingi oleh Damar Juniarti dari SAFEnet, Asfinawati dari YLBHI, dan Astari Yanuarti dari Mafindo. Ia memberikan pernyataan kepada media terkait apa yang dialaminya.

Kasus persekusi juga pernah dialami oleh Indrie Sorayya, perempuan pengusaha berusia 31 tahun di Tangerang‎, Banten yang juga didatangi puluhan anggota FPI pada 21 Mei yang memprotes tulisannya di facebook yang dinilai melecehkan Rizieq Shihab.

Kasus persekusi bahkan kembali terjadi, kali ini dialami oleh seorang remaja berusia 15 tahun dengan inisial PMA di Cipinang Muara, Jakarta Timur (Jaktim). Tindakan intimidasi oleh sekelompok orang dari ormas tertentu itu viral di medsos melalui video berdurasi 2 menit 19 detik.

Tindakan persekusi tersebut terjadi ditengarai karena penyataannya di akun Facebook-nya yang bernada sindiran terhadap tokoh pimpinan organisasi masyarakat tertentu. Dalam video tersebut terlihat, sejumlah anggota ormas tertentu menangkap dan mengintrograsi remaja tersebut di sebuah tempat.  Video tersebut juga memperlihatkan tindakan intimidasi verbal maupun pukulan serta tamparan wajah terhadap remaja korban Persekusi tersebut. Bahkan ancaman akan dibunuh jika mengulang perbuatan yang sama juga terdengar jelas saat persekusi dilakukan oleh sejumlah kelompok tertentu. Remaja korban persekusi itu terlihat dipaksa untuk menandatangani surat permintaan maaf bermaterai. Surat permohonan maaf itu pun diminta untuk diposting di akun Facebooknya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Subdit Jatanras Polda Metro Jaya akhirnya mengevakuasi remaja tersebut pada Kamis (1/6/2017) sore. “Dievakuasi ke tempat yang lebih aman untuk menghindari intimidasi dari kelompok ormas,” ujar Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan di lokasi.